Headlines
Published On:Selasa, 15 Februari 2011
Posted by Unknown

Surau di Lintau (Minang Saisuak)

minang-saisuak-28-suryadi-surau-di-lintau

SURAU adalah bagian dari rantai kehidupan kaum lelaki Minangkabau. Dengan berbekal sekeping al-Quran, seorang anak lelaki di Minangkabau ‘diserahkan’ oleh keluarganya kepada seorang guru mengaji di surau di kampungnya. Anak lelaki yang tidur di rumah mendapat cemeeh sebagai ‘anak amak’ yang tidur di ketiak ibunya. Artinya, ia dianggap agak kewanita-wanitaan. ‘Anak amak’ seperti itu akan sering ‘diuji’ oleh teman-temannya, baik dalam bentuk adu kata, adu permainan, maupun adu fisik.

Surau adalah tempat inisiasi oleh seorang Minangkabau sebelum ia pergi menghadang rantau yang bertuah, setelah menyeberangi ‘laut sakti’. Di surau seorang anak lelaki Minangkabau tidak sekedar belajar agama dan belajar membaca al-Quran (mengaji), tapi juga belajar ilmu bela diri (silek). “Di dekat surau dibangun [...] sasaran” silat, demikian kata A.A. Navis dalam bukunya Alam Terkembang Jadi Guru (1984:190). Sehabis waktu mengaji, anak laki-laki diajari ilmu bela diri (silek) di sasaran oleh guru mengajinya atau oleh seorang pendekar di kampung itu, sebagai bekal untuk ‘mailak’an karambia malanja’, terutama bila sudah berada di perantauan nanti.

Seiring dengan perkembangan Islam di Minangkabau, dan lebih-lebih lagi setelah zaman Padri, beberapa surau menjadi sekolah agama (Godsdienstscholen) dengan banyak murid, seperti pesantren di Jawa. Pionir surau seperti ini adalah Surau Syekh Burhanuddin di Ulakan (Van Ronkel 1914). Pada paroh kedua abad ke-19 ditemukan beberapa surau penting di darek yang mempunyai banyak murid (santri), seperti di Caluak, Padang Sibusuak, Koto Tuo, Tanjuang Barulak, Simabua, Koto Anau, dll. (Verkerk Pistorius 1869:444-5). Seorang Minangkabau menulis dalam jurnal De Indische Gids (1888.I:312-333) yang bertajuk “De Masdjid’s en Inlandsche Godsdienstcholen in Padangsche Bovenlanden” (‘Mesjid dan Sekolah-sekolah Agama di Padang Darat’) mencatat bahwa ketika ia berkunjung ke Surau Batu Hampar pada 18 April 1888, ia melihat banyak santri belajar di sana yang, dari mendengar logat mereka waktu berbicara, kelihatannya mereka berasal dari berbagai daerah di dan dari luar Minangkabau.

Kali ini Singgalang Minggu menyajikan foto litografi sebuah surau di Lintau. Foto ini (21,5×27,5 cm.) dibuat oleh C. Nieuwenhuis pada tahun 1890. Ah…betapa enaknya tidur di surau seperti ini sehabis mengaji dan belajar silat yang membuat peluh mengalir. Jika hujan turun di malam hari, tidur di surau bisa menjadi lebih lelap. Lantai kayunya tetap membuat tubuh terasa hangat di atas tikar pandan dan di balik kain sarung. Kita patut berterima kasih kepada Muhammad Radjab yang dalam otoriobrafinya, Semasa Kecil di Kampung, 1913-1928 (Djakarta: Balai Poestaka, 1950) antara lain berkisah tentang suasana kehidupan anak lelaki Minangkabau dalam lingkungan surau di kampungnya di Singkarak.

Perhatikan arsitektur surau ini yang bergaya Koto Piliang, yang memadukan bentuk atap rumah gadang Minangkabau dan bentuk bangunan mesjid yang yang bergaya Islam. Dulu surau-surau dengan bangunan khas seperti ini – dengan arsitektur bergaya Koto Piliang dan Bodi Caniago – ditemukan di banyak nagari di Minangkabau. Beberapa di antaranya sekarang masih dapat ditemukan di beberapa nagari di Sumatra Barat.

Banyak surau tradisional di desa-desa Minangkabau direnovasi oleh penduduk setempat dengan menghilangkan bentuk aslinya. Surau-surau baru dibangun dengan dinding beton, lantai marmer, jendela kaca, dan kubah model mesjid-mesjid di Arab. Dengan tidak sadar mereka yang gila modernisasi dan terjangkit euforia globalisasi yang akut telah menghancurkan sejarah mereka sendiri. Sebelum terlanjur habis, surau-surau tradisional Minangkabau yang masih ada sampai sekarang, yang memiliki nilai sejarah yang tinggi, harus diselamatkan.

Suryadi – Leiden, Belanda. (Sumber foto: KITLV Leiden).
Singgalang, Minggu, 12 Desember 2010
sumber : http://niadilova.blogdetik.com/

Klik Bintang Untuk Voting Anda
Rating: 4.5
Description: Surau di Lintau (Minang Saisuak)
Reviewer: Unknown
ItemReviewed: Surau di Lintau (Minang Saisuak)


About the Author

Posted by Unknown on Selasa, Februari 15, 2011. Filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

By Unknown on Selasa, Februari 15, 2011. Filed under . Follow any responses to the RSS 2.0. Leave a response

0 comments for "Surau di Lintau (Minang Saisuak)"

Posting Komentar
Latest Posts :

Hotel

Kuliner

Wisata

Artikel Lainnya » » More on this category » Artikel Lainnya » »

Musik

Tari

Ukiran

Artikel Lainnya » » Artikel Lainnya » » Artikel Lainnya » »

Top Post

Coment

Adat

Artikel Lainnya»

Budaya

Artikel Lainnya »

Sejarah

Artikel Lainnya »

Tradisi

Artikel Lainnya »

Di Likee "Yaaa.." Kalau Postingan Di sini Sangat Bermanfaat Dan Membantu bagi Anda ..

VISITORNEW POST
PageRank Checker pingoat_13.gif pagerank searchengine optimization Search Engine Genie Promotion Widget ip free counter