Headlines

Pitaruah ayah

Posted by Unknown | Sabtu, 21 Juli 2012 | Posted in , , , ,

pitaruah ayah untuak anak padusi nan jolong gadang

.

pitaruah ayah

Posted by Unknown | | Posted in , , ,



pitaruah ayah untuak anak laki-laki


Carito Klasik Minang

Posted by Unknown | | Posted in , , , ,

Tuah Balega Salah Dek Manyimpang

Carito Minang

Posted by Unknown | | Posted in , , , ,

Kisah Siti Nurbaya dan Datuk Maringgih

Posted by Unknown | Jumat, 20 Juli 2012 | Posted in , , ,

Siti Nurbaya.Legenda cerita rakyat yang mengisahkan tentang jalinan kasih yang tak sampai antara sepasang insan yang berujung pada kawin paksa. Sang pria bernama Syamsul Bahri,
selain berwajah tampan juga berasal dari keturunan orang terpandang. Bapaknya adalah seorang Penghulu yang terpandang, yakni Sutan Mahmud. Si gadis bernama Siti Nurbaya, berparas jelita, berambut panjang bak mayang terurai serta santun budinya anak dari Baginda Sulaiman. Jalinan cinta Siti dan Syamsul sangat direstui oleh kedua orang tuanya yang masih punya hubungan kekerabatan. Sutan Mahmud ayah Syamsul Bahri adalah Mamak Siti Nurbaya.
Setelah menamatkan sekolah tingkat atas, Syamsul Bahri melanjutkan sekolah calon Dokter di pulau Jawa untuk menatap masa depan yang lebih cerah. Tak terbayangkan betapa sedihnya Syamsul Bahri yang harus meninggalkan sang kekasih pujaan hati. Air mata Siti Nurbaya berlinang membasahi pipi disaat melepas kekasih hatinya di pelabuhan Teluk Bayur, dan berharap cepat kembali. Saling berkirim surat cinta adalah pengobat rindu mereka berdua.
Kisah Siti Nurbaya dan Datuk Maringgih 
 
Tahun berlalu musim berganti, musibah datang mendera keluarga Siti Nurbaya, usaha dagang ayahnya mengalami kebangkrutan, hingga jatuh miskin dan Baginda Sulaiman akhirnya jatuh sakit. Beliau akhirnya meminjam uang kepada seorang rentenir yang berbadan kurus dan suka beristri banyak bernama Datuk Maringgih. Hutang Baginda Sulaiman akhirnya bertumpuk dan berbunga pada Datuk Maringgih.
Suatu hari Datuk Maringgih pergi kerumah Baginda Sulaiman yang sedang sakit untuk menagih piutangnya. Disanalah Datuk Maringgih terpesona melihat kecantikan Siti Nurbaya. Datuk Maringgih memaksa Baginda Sulaiman untuk menjadikan Siti Nurbaya sebagai istri mudanya kalau ayah Siti Nurbaya tak sanggup untuk membayar hutangnya.


Siti Nurbaya menolaknya, karena dia sudah punya kekasih yakni Syamsul Bahri. Tapi Siti Nurbaya tak berdaya dan akhirnya dipersunting oleh Datuk Maringgih yang berumur sebaya dengan ayahnya. Kabar tersebut sampai ke telinga Syamsul Bahri, hatinya sangat sedih dan mencoba bunuh diri.
Suatu hari Syamsul Bahri pulang ke Padang dan bertemu degan Siti Nurbaya. Datuk Maringih naik pitam dan meyebarkan fitnah yang menyudutkan Syamsul Bahri. Akhirnya ia di usir oleh ayahnya Sutan Mahmud. Syamsul Bahri kembali ke Jakarta, diam-diam ia menyamar jadi tentara kompeni Belanda, dengan nama samaran Letnan Mas.
Datuk Maringgih menjadi benci kepada Siti Nurbaya, puncaknya ia melampiaskan dendamnya dengan memberikan Lemang beracun kepada pesuruhnya untuk diberikan kepada Siti Nurbaya. Siti Nurbaya menemui ajalnya setelah memakan lemang beracun kiriman Datuk Maringgih.
Pada saat tragedi Balesting (Saudagar-saudagar pribumi yang tidak mau membayar upeti/pajak dibawah pimpinan Datuk Mariggih), dikirimlah Letnan Mas oleh Kompeni ke Padang untuk menumpas para pembangkang balesting.
Terjadilah peperangan satu lawan satu antara Letnan Mas dengan Datuk Maringgih. Akhir cerita Letnan Mas yang tak lain adalah Syamsul Bahri tewas di pedang diujung pedang, bersamaan dengan Datuk Maringgih juga roboh terkena tembakan Letnan Mas





sumber:http://pelangiholiday.wordpress.com/2011/06/09/kisah-siti-nurbaya-dan-datuk-maringgih-di-ranah-minangkabau/

Siti Nurbaya: Kasih Memang Tak Mesti Sampai

Posted by Unknown | | Posted in , , ,



1341195706377846338
gambar - http://plasa.com
Mengunjungi Kota Padang, segera teringat kisah sedih Siti Nurbaya. Sedemikian melegenda kisah kasih itu, hingga dibuatkan monumen berupa jembatan Siti Nurbaya. Jembatan itu biasa saja, sederhana. Namun menyimpan gurat kesedihan yang tak terperikan. Tangis Siti Nurbaya seakan masih terdengar menggema di telinga, saat saya melintas di bawahnya, Sabtu 30 Juni 2012 kemarin.
Kisah kasih tak sampai, selalu menyedihkan. Marah Rusli mampu menggambarkannya dengan sangat hidup. Buku yang sudah berkali tamat saya baca ketika masih sekolah SD, namun ternyata tetap menarik bagi saya untuk kembali membacanya. Barusan saya membeli buku legenda itu lagi di Bandara Minangkabau, ketika hendak meninggalkan Padang, Senin 2 Juli 2012. Terbitan Balai Pustaka, cetakan ke-47, tahun 2010. Cetakan pertama buku itu tahun 1922 oleh penerbit yang sama.
Agar tidak perlu repot menulis resensinya, saya ambilkan saja dari http://pelangiholiday.wordpress.com yang telah memposting ringkasan kisah Siti Nurbaya.
Siti Nurbaya, antara Syamsul Bahri dan Datuk Maringgih
Adalah Syamsul Bahri, seorang lelaki berwajah tampan dan berasal dari keturunan orang terpandang. Bapaknya adalah seorang Penghulu yang terpandang, yakni Sutan Mahmud. Ia jatuh cinta kepada seorang gadis jelita, Siti Nurbaya, yang berambut panjang bak mayang terurai serta santun budinya, anak dari Baginda Sulaiman. Jalinan cinta Siti dan Syamsul direstui oleh kedua orang tua yang masih memiliki hubungan kekerabatan. Sutan Mahmud ayah Syamsul Bahri adalah mamak Siti Nurbaya.
Setelah menamatkan sekolah tingkat atas, Syamsul Bahri melanjutkan sekolah calon dokter di pulau Jawa. Tidak  terperikan betapa sedih hati Syamsul Bahri yang harus meninggalkan kekasih pujaan hati. Air mata Siti Nurbaya berlinang membasahi pipi saat melepas Syamsul di pelabuhan Teluk Bayur, dan berharap cepat kembali bertemu. Saling berkirim surat cinta adalah pengobat rindu mereka berdua saat hidup terpisah.
Tahun berlalu musim berganti, musibah datang mendera keluarga Siti Nurbaya, usaha dagang ayahnya mengalami kebangkrutan, hingga jatuh miskin dan Baginda Sulaiman akhirnya jatuh sakit. Beliau meminjam uang kepada seorang rentenir yang berbadan kurus dan beristri banyak, bernama Datuk Maringgih. Hutang Baginda Sulaiman semakin bertumpuk dan berbunga pada Datuk Maringgih.
Suatu hari Datuk Maringgih pergi ke rumah Baginda Sulaiman yang sedang sakit untuk menagih piutangnya. Disanalah Datuk Maringgih terpesona melihat kecantikan Siti Nurbaya. Datuk Maringgih memaksa Baginda Sulaiman agar menikahkan Siti Nurbaya dengan dirinya sebagai istri muda kalau tak sanggup membayar hutang.
Siti Nurbaya menolak, karena sudah punya kekasih. Tapi Siti Nurbaya tak berdaya dan akhirnya dipersunting oleh Datuk Maringgih yang berumur sebaya dengan ayahnya. Kabar tersebut sampai ke telinga Syamsul Bahri, hatinya sangat sedih dan mencoba bunuh diri.
Suatu hari Syamsul Bahri pulang ke Padang dan bertemu dengan Siti Nurbaya. Datuk Maringgih naik pitam dan meyebarkan fitnah yang menyudutkan Syamsul Bahri. Akhirnya ia di usir oleh ayahnya Sutan Mahmud. Syamsul Bahri kembali ke Jakarta , diam-diam ia menyamar jadi tentara kompeni Belanda, dengan nama samaran Letnan Mas.
Datuk Maringgih menjadi benci kepada Siti Nurbaya, puncaknya ia melampiaskan dendam dengan memberikan lemang beracun melalui pesuruh untuk diberikan kepada Siti Nurbaya. Tragis, Siti Nurbaya menemui ajalnya setelah memakan lemang beracun kiriman Datuk Maringgih.
Pada saat tragedi Balesting dimana saudagar-saudagar pribumi tidak mau membayar upeti di bawah pimpinan Datuk Mariggih, dikirimlah Letnan Mas oleh Kompeni ke Padang untuk menumpas para pembangkang Balesting. Terjadilah peperangan satu lawan satu antara Letnan Mas dengan Datuk Maringgih.
Akhir cerita Letnan Mas yang tak lain adalah Syamsul Bahri tewas di ujung pedang, bersamaan dengan Datuk Maringgih juga roboh terkena tembakan Letnan Mas.
Andai Siti Nurbaya Hidup di Zaman Sekarang
Mengapa Siti Nurbaya mau menikah dengan Datuk Maringgih? Bukankah ia bisa melarikan diri, toh harga pesawat ada yang cukup murah. Ia bisa memesan jauh hari agar harga semakin murah. Bukankah Siti Nurbaya bisa telepon atau SMS kepada Syamsul Bahri yang masih sekolah di Jawa, janjian atau membuat kesepakatan tertentu. Kalau ingin mendapat dukungan publik, share saja kasus itu melalui jejaring sosial seperti facebook, twitter, atau melalui blog, web dan milis.
Syamsul harusnya bisa datang ke Padang lebih awal setelah mendapat SMS dari Siti Nurbaya bahwa kondisinya terancam. Syamsul bisa mengajak pengacara yang terpercaya, apalagi yang mau gratis, untuk menyelesaikan kasus Baginda Sulaiman yang terlilit hutang kepada Datuk Maringgih. Laporkan saja Datuk Maringgih ke Kepolisian agar ditangkap karena ia orang jahat. Setelah itu, segera nikahi Siti Nurbaya, dengan urusan resmi ke KUA. Tidak perlu nikah siri.
Setelah menyelesaikan urusan di Padang, segera ajak Siti Nurbaya ke Jawa, untuk meneruskan studi lanjut. Ambil program spesialis, atau beralih ke jalur politik, agar kelak bisa kembali ke Ranah Minang untuk menjadi Bupati atau Gubernur. Maka berbahagialah hidup Syamsul Bahri dan Siti Nurbaya di Ranah Minang. Mereka dikaruniai anak-anak yang lucu dan baik.
Ah, jangan berandai-andai. Kenyataannya, takdir telah menuliskan Siti Nurbaya hidup di zamannya, untuk menjadi legenda kepedihan hati, karena kasih tak sampai. Jangan lagi ada orang sejahat Datuk Maringgih. Jangan ada lagi orang tua yang tega memaksa anaknya untuk menikah dengan lelaki yang tidak dicintainya. Jangan lagi ada warga yang kesulitan ekonomi sehingga terlilit hutang ke rentenir berwatak jahat.
Siti Nurbaya adalah pengingat kepada kita semua. Biarkan saja ia hidup di zamannya. Bahkan ternyata tetap hidup di zaman kita, sebagai legenda yang membawa pesan-pesan mulia.
Garuda delay 40 menit.
Bandara Minangkabau, 2 Juli 2012


Sumber  :      http://sosbud.kompasiana.com/

Malin Kundang

Posted by Unknown | Kamis, 14 Juni 2012 | Posted in , , ,


 

Kisah ini menceritakan tentang hukuman yang diterima oleh seorang anak yang durhaka terhadap orang tuanya.
Inti ceritanya adalah sebagai berikut:
Dahulu kala ada seorang ibu dengan seorang anak laki-lakinya bernama Malin Kundang hidup dalam keadaan yang sangat miskin. Setelah dewasa, si anak pergi merantau ke negeri orang untuk merubah hidupnya.
Setelah sekian lama dalam perantauan, si pemuda berhasil menjadi seorang saudagar yang kaya-raya dan memperisteri seorang gadis cantik yang berasal dari keturunan orang kaya juga.
Suatu ketika, si pemuda yang telah menjadi saudagar tersebut berlayar ke kampung halamannya dikarenakan suatu urusan dagang. Ketika berlabuh dan turun dari kapal layar besarnya, orang-orang kampung mengenalinya sebagai Malin Kundang yang dulu ketika pergi merantau masih dalam keadaan miskin. Orangpun memanggilkan ibunya yang sudah tua bahwa anaknya ada di pelabuhan.
Si ibu segera berangkat untuk menemui anaknya. Namun, ketika bertemu bukan kebahagian yang dia dapatkan tetapi cacian dan makian dari si Malin Kundang. Malin Kundang yang telah kaya itu merasa malu kepada orang lain, terutama kepada istrinya bahwa dia berasal dari kalangan orang miskin. Karena itu dia tidak mengakui bahwa perempuan tua itu adalah ibu kandungnya. Bahkan dengan tega dia meludahi ibu kandungnya sendiri dan mengusir dari kapalnya.
Si ibu yang merasa sedih dengan kelakuan anaknya apalagi sampai tidak mengakui dia sebagai ibunya, akhirnya berdoa kepada Tuhan untuk memberi hukuman pada anaknya. Tuhan mengabulkan do’anya. Datanglah badai dan ombak besar menghantam kapal layar yang berukuran besar tersebut dan menghempaskannya ke pinggir pantai.
Si Malin Kundang yang merasa bersalah akhirnya memohon ampun pada ibunya. Tetapi semuanya sudah terlambat ketika hukuman dari Yang Maha Kuasa sudah datang.
Akhirnya Malin Kundang dikutuk menjadi batu. Sampai sekarang, anda dapat menyaksikan batu-batu berbentuk kapal ditepi Pantai Aie Manieh.

Sumber   ;      http://kampuangkubang.wordpress.com/

Kisah Siti Nurbaya dan Datuk Maringgih di Ranah Minangkabau

Posted by Unknown | Minggu, 10 Juni 2012 | Posted in , ,

Legenda cerita rakyat yang mengisahkan tentang jalinan kasih yang tak sampai antara sepasang insan yang berujung pada kawin paksa. Sang pria bernama Syamsul Bahri,
selain berwajah tampan juga berasal dari keturunan orang terpandang. Bapaknya adalah seorang Penghulu yang terpandang, yakni Sutan Mahmud. Si gadis bernama Siti Nurbaya, berparas jelita, berambut panjang bak mayang terurai serta santun budinya anak dari Baginda Sulaiman. Jalinan cinta Siti dan Syamsul sangat direstui oleh kedua orang tuanya yang masih punya hubungan kekerabatan. Sutan Mahmud ayah Syamsul Bahri adalah Mamak Siti Nurbaya.
Setelah menamatkan sekolah tingkat atas, Syamsul Bahri melanjutkan sekolah calon Dokter di pulau Jawa untuk menatap masa depan yang lebih cerah. Tak terbayangkan betapa sedihnya Syamsul Bahri yang harus meninggalkan sang kekasih pujaan hati. Air mata Siti Nurbaya berlinang membasahi pipi disaat melepas kekasih hatinya di pelabuhan Teluk Bayur, dan berharap cepat kembali. Saling berkirim surat cinta adalah pengobat rindu mereka berdua.
Tahun berlalu musim berganti, musibah datang mendera keluarga Siti Nurbaya, usaha dagang ayahnya mengalami kebangkrutan, hingga jatuh miskin dan Baginda Sulaiman akhirnya jatuh sakit. Beliau akhirnya meminjam uang kepada seorang rentenir yang berbadan kurus dan suka beristri banyak bernama Datuk Maringgih. Hutang Baginda Sulaiman akhirnya bertumpuk dan berbunga pada Datuk Maringgih.
Suatu hari Datuk Maringgih pergi kerumah Baginda Sulaiman yang sedang sakit untuk menagih piutangnya. Disanalah Datuk Maringgih terpesona melihat kecantikan Siti Nurbaya. Datuk Maringgih memaksa Baginda Sulaiman untuk menjadikan Siti Nurbaya sebagai istri mudanya kalau ayah Siti Nurbaya tak sanggup untuk membayar hutangnya.
Siti Nurbaya menolaknya, karena dia sudah punya kekasih yakni Syamsul Bahri. Tapi Siti Nurbaya tak berdaya dan akhirnya dipersunting oleh Datuk Maringgih yang berumur sebaya dengan ayahnya. Kabar tersebut sampai ke telinga Syamsul Bahri, hatinya sangat sedih dan mencoba bunuh diri.
Suatu hari Syamsul Bahri pulang ke Padang dan bertemu degan Siti Nurbaya. Datuk Maringih naik pitam dan meyebarkan fitnah yang menyudutkan Syamsul Bahri. Akhirnya ia di usir oleh ayahnya Sutan Mahmud. Syamsul Bahri kembali ke Jakarta, diam-diam ia menyamar jadi tentara kompeni Belanda, dengan nama samaran Letnan Mas.
Datuk Maringgih menjadi benci kepada Siti Nurbaya, puncaknya ia melampiaskan dendamnya dengan memberikan Lemang beracun kepada pesuruhnya untuk diberikan kepada Siti Nurbaya. Siti Nurbaya menemui ajalnya setelah memakan lemang beracun kiriman Datuk Maringgih.
Pada saat tragedi Balesting (Saudagar-saudagar pribumi yang tidak mau membayar upeti/pajak dibawah pimpinan Datuk Mariggih), dikirimlah Letnan Mas oleh Kompeni ke Padang untuk menumpas para pembangkang balesting.
Terjadilah peperangan satu lawan satu antara Letnan Mas dengan Datuk Maringgih. Akhir cerita Letnan Mas yang tak lain adalah Syamsul Bahri tewas di pedang diujung pedang, bersamaan dengan Datuk Maringgih juga roboh terkena tembakan Letnan Mas. 
(Cerita Roman Siti Nurbaya karangan Marah Rusli).dan photo di persembahkan oleh dari Kemilau Indonesia

Pitaruah Ayah 5

Posted by Unknown | Senin, 14 Mei 2012 | Posted in , ,



Ma adoh iyo urang macam itu nak, adoh sifaik nan ka dipakai, yaitu manjauah. Ibaraik marambah bio-bio kok hanyo dioyak dari bawah atau diruntun diratehi alamaik miangnyo batebaran badan ang juo nan kagata. Kalau ka tangguang-tangguang masuak sakadar badebat manumpalak eloklah manyisiah sajo. Sabab dek aluih makan jarumnyo, rumik mancari jajak masuak.

Indak batali ka diri atau tampuaknyo ka dijinjiang salain dandam parang batin batinju kasudahannyo. Basuo bak pantun-pantun urang, jam gadang di Bukittinggi talatak di Pasa Ateh, tukang palindih daulunyo. Haluih karajo urang kini mangarang bungo jo karateh dek kumbang basosok juo. Nak duo pantun sairiang, babuah rambai di puguak, bungo disasok barau-barau, ulah parangai kayu bungkuak, caia malaleh kuduak kabau. Pahamkan bana tu nak kanduang, jago diri ang kanai miang, apolai manjadi miang, samo tak elok kaduonyo. Adopun paku ataupun pakis tarmasuak bangso suku rumpuik. Sajak dulu di ranah minang paku takato jadi sayua sampai kini musaua juo. Malah ndak sajo di kampuang awak, lapeh ka Jawa, ka Malaysiam ka Ambon, ka Kalimantan, sampai Brunei Darussalam, populer katupek gulai paku, lontong Padang namonyo sinan. Nan paliang lamak dicampua jariang, serak-serakan udang bariang, asamnyo, asam balimbiang, bungo sambuang konconyo bana. Kok nak tau jo lamak paku nak cubo diulang maangek-i, lah masiak mangkonyo sero. Tapi ado saketek nan maibo, manuruik pituah angku doktor, paku ndak manganduang gizi, sanasib pulo jo cubadak, manganyang indak bavitamin (he …). Bialah ka ba’a pulo (heh …). Nan nyato itulah budaya awak, gulai pusako Minang Kabau. Samanjak alun barabalun, maso lauik sacampak jalo, marapi sagadang talua itiak, paku cubadak alah juo. Hidup paku jo cubadak, maju terus pantang mundur (he…).A . . . kito tinggakan satu taminak, ditala’ah sifaik-sifaik-nyo tu ambiak ka jadi guru. Dari pangalaman ilmu paku ado bana nan kadi tiru. Yaitu, perjuangan manantang hiduik, “Strange for life”, kato si bule. Yakin, gigiah, pecaya diri tapi jujur. Itu nan patuik kito contoh. Cubo ang like, ang pandangi. Indak sajo di tanah lambuak, di tanah lapa inyo iduik, di salek batu jadi juo. Malah indak pun di ateh bumi di dahan kayu tumbuah paku, di batang karambia bisa subur sampai ka pucuak-pucuak, atok paku ko tatap iduik mewah. Sungguah manjadi pengembara, hinggoknyo indak manyeso, makannyo mancari surang, pantang manggaduah urang lain, bak cando limau di binalu. Mandiri, itu nan patut ka ditiru, suri tauladan ka dipakai. Satantang gigiah jo gagah caliaklah parjuangannyo, walau dihalang, dirintangi, baluka mahambek paneh, angin pun tak dapek lalu ulah dek angkuah kayu gadang.

inyo mampu batahan iduik di bawah bayang kesombongan. Baru kapatang kanai sabik, pagi cako di lanyau kabau, atau diimpok kayu mati, sahinggo punah tingga tunggua, bisuak pagi tuneh tacogok sa-pakan lah rimbun pulo. Panek batauik tak mamba’a, diparun alun ka’abih, antah kok urek nan tacabuik. Tapi, salagi rumpun tak binaso nan paku, bapantang mati. Sadangkan maklhuk tumbuhan tu nak, indak baraka, indak baraso, indak pulo punyo napasu lai gigiah mancari hiduik. Manga kalian kok manganggur, haa. Banyaklah contoh Ayah like, taganda di parantauan, ta tumbuak usaho galeh pondoh poroh pulang ka kampuang. Pangacuik, kok ka gadang raso tak mungkin, pokok tandeh kadai lah lapeh. Carilah mato lokak lain ba’ako lari dari porong. Kandas galeh, lompek ka tukang, ndak lanteh cubo mangantau salek juo ka maojek. Saindak-indaknyo jadi cingkariak, manguli manjawek upah. Pendeknyo usaho, tidak satu jalan ke Roma kato rang sinan. Nan ka usah, kalau ba CV. Duo Jari, ma’agen manjua ganja, manempe jo tante girang, adaik malarang, undang managah, isuak basinggang di narako. Kok lai baliak ka kampuang, basawah mambuka landang, baparak, taranak ayam, syukur bana turun ka tani. Ha… iko indak sawah tingga, ladang marimbo, hutan kosong, lahan talantar, inyo nak sungguah di palantah. Tangah hari di lapau juo, domino balapia-lapia, gurau jo kincah nan utamo. Sahinggo di luluak tajak balariah, pinggan tak cukuik. Pamaleh, kanker jo tumor dalam hiduik nan panyagan, pambarek tandan, pamalu lambek bakisah. Pantang cilako kami dulu, bagayuik ka urang tuo, babaliak makan ka pusako. Apo lai marengek-rengek, pacar den lah gadang juo, kawin ka ba’a ko den lah Ayah, itu haram bagi anak Minang. Baitupun taradok palajar, mahasiswa nan pacah mental, pangaluah panjang, patuik baraja dari paku. Mantang-mantang anak kuliah, gengsi bana turun ka pasa, namuah manjadi kutu rumah. Panganggur intelek bahaso trend-nyo, rumus nan dipakai-nyo. Tujuan sikola jadi pegawai, cari karajo ilia mudiak, masuak kantua kalua kantua, lamar kian kamari, mohon kamari. Sahinggo lah tipih tapak sipatu, tabuak sarawa, tenteang ikua, batarimo ka indak juo. Tidak ada lowongan atau tunggu saja panggilan, baitu jawab pesonalia. Mako dek bosan gilo mananti umua samakin gaek juo. Kasudahannyo, baputuih aso, tibo depres, frustasi, mamanuang, panggalak surang.

copas dari cimbuak.net

Pitaruah Ayah 4

Posted by Unknown | | Posted in , ,


Jikok sapancuang alun putuih kalau salangkah indak sampai, kini gagal bisuak ulangi. Dibaliak-baliak ba-mamanggang baru nyo masak lua dalam, diulang-ulang bak manyapuah sinan tatampak mangileknyo, sabab “kegagalan adalah sukses yang tertunda” baitu kecek cadiak pandai. Simaklah pulo anau jo rimbo nak, tumbuah tak rago urang tanam barabuik sigaek nak mamanjek indak suatu nan tabuang. Batangnyo manganduang sagu, makanan urang sa nagari jo kudo-kudo malamakkan, ruyuang diambiak ka pincuran, kok dikabuang dibalah-balah, elok ka kasau jo kalantai, ka paga nan rancak bana. Daun nan tou jadi atok nan pucuak ka daun rokok lidih disusun jadi sapu. Ijuaknyo elok ka tali, saga pun banyak kagunoan. Buah lamak nirunyo manih. Dimasak jadilah gulo, diparam tuak namonyo, kok rasan itulah cuko. Sampai-pun ka miang palapahnyo, tapakai ka rauak api, sabalun datang Kewe jo Ronsul jatuih dakek urang namokan. Sungguahpun awak urang batuah banso anau indak takabua sifaik sombong jauah sakali. Tagaknyo manjauah-jauah, indak mamiliah tampek tumbuah, di bukik, di lurah dalam, di nan lereang atau nan data. Bia di gurun tanah lakuang inyo basanang hati juo. Daun nyo ndak rampak bana, kok gugua salero tuo, jatuah barungguak ka rumpunnyo, indak tagaduah kiri-kanan. Santano manusia mancontoh anau nak, batang sampia namo asiangnyo. Pastilah, nagari aman kampuang santoso gemah ripah loh jenawi, barek lurah tanam manjadi. Itulah masyarkat nan adil makmur, di bawah ampun ridha Allah. Mako tacapailah nagari nan “baghdatun tayyibatun warabun ghafur”. Sabab baalah yo baitu nak, satiok urang bapancarian mampunyoi padok surang-surang tak ado istilah pangangguran. Tatimbun jurang kamiskinan, hilanglah bingik ke nan kayo, kecemburuan sosial kato rang kini. Sadonyo berpotensi, sadonyo aktif produktif, nan buto panghuni lasuang, nan pakak palapeh badia, nan lumpuah panggaro ayam, nan binguang suruah-suruahan. Inilah sumber daya manusia modal utama pembangunan baitu pemimpin mangatokan. Niro ndak buliah sombong ka didih, kok indaklah karajo sapu batumpuak sarok di laman. Walau hanyo miang palapah usah dileceh diremehkan. Sabab dek rabuak kaiduik api sanggup mambaka rimbo rayo. Mako kalaulah sampai tak paguno nak, ilia santai mudiak bamain, lah gadang bagelong juo, iduik bagantuang ka ranggaek. Malulah awak bakeh anau, urang lah pulo dari sampiak. inok manuangkan tu nak kanduang, bao pikia dalam-dalam.

kaba baraliah, inyo lai sungguah baraliah sinan juo dikaji, tantang bio-bio. nan dikatokan bio-bio nak, bagagang mamanjek samak, biaso tumbuah di baluka roman saujuik kacang paga. Buahnyo baduyun-duyun, kulik bakilek kuniang hamek haluik babulu anak kuciang, itulah miang sabananyo.

Mako salain banamo bio-bio kacang miang namonyo juo jarang lah urang nan tak tau. Dek inyo bagagang panjang, bio-bio manjala tanah, supayo tagak bak urang pulo tapaso malilik batang bagantuang ka rantiang kayu. Banyak kacang pakaro kacang, kacang miang paliang manggata. Gata dek miang bio-bio taseso sabatang tubuah, jantuang lah mintak gawiak pulo. Ba’a bana sakik padiahnyo nak sulih lah Ayah mangatokan, antah kok urang nan marasai. Sumpah, kutuak, caci-makian, upek caraco, caruik kungkang, dibanci salamo hiduik. Jangankan ka mandakek, mandanga namo sajo lah jajok. Kok kunun maliek ka pamenan. jo api mamunahkannyo nak tunggua dikikih dilantiangkan, baitu doso kacang miang. Nyampang kok kito manusia mamakai sifaik bio-bio, sakampuang kanai miangnyo manggata turun-tamurun. Jauahkan laku nan baitu nak, buliah salamaik hiduik awak. Cubo wa’ang bayangkan, ulah dek asuang jo pitanah, gunjiang kian kincah kamari, bisa mararak kasiah sayang urang balaki di sibaknyo. Tibo didagang panggaleh lahabiah di timpo kabakaran, tansano api nan mamakan tingga juo puntuang baronyo. Taga dek bingik dangki urang toke manjadi anak buah. Santano kantua ditimponyo direktur masuak pinjaro, manajer dipecat tagak, sekretaris tabaok rendong. Untuak itu Ayah ingekkan, hati-hati dalam bagaua, banyak batamu bio-bio nak ulek bulu namonyo juo. Karena bak cando jujur muluik manih baso katuju, awak Talen parlente pulo panampilan pun mayakinkan. Ado kalonyo potongan dukun paham rasio dalam batin pandai manakok hati urang. Kadang-kadang bantuak ulama, hadihnyo balapiah-lapiah, ayatnyo bak ilia-ilia, iko dalia iko ma’ana. Ado juo rupo sarjana tau jo pasal undang-undang hukum pidana jo perdata. Geleknyo baragam, kicuah jo kecoh nan nyato inyo manyerak miang cundang kabaji nan nyo agiah. Pura-pua ibo, kasihan katonyo ingin nak manolong barisuak urang batagak gaua gawik gapai sapanjang jalan baliau mangakeh di subaliak.

copas dari cimbuak.net

Pitaruah Ayah 3

Posted by Unknown | | Posted in , ,


Aa.. kini caliaklah pulo kayu gadang, baringin di tangah padang. Baurek cukam ka tanah, jauah taunjam ka pitalo, panuahlah bumi di rumpunnyo. Dek gampo indak tabukek-kan, dek badai alun ka ta-oleang, ko-no lah goyang manilalu. Taguah jo pandirian, istiqamah dengan tauhid, beprinsip tegar dan kokoh. Kalau yakin tumbuah dipaham, sajangka duduak tak bakisa, satampok tagak tak bapayuang, walau baalah bujuak rayu, haram kuniang karano kunyik pantang lamak ulah dek santan. Rugi jo pitih ndak ditumang nak, jariah payah pasa biaso, tapi jaan diago martabat urang. Lompek-salompek ambua tibo indak baserap kato duo, tak iduik mati pun jadi. Kayu baringin bapucuak cewang ka langik, tinggi malepai awan biru, pidoman musafir lalu. Daun rimbun buliah bataduah, bakeh balinduang kaujanan, paneh kaganti payuang panji, ureknyo tampek baselo, batang nan gadang kasandaran, dahan nan rampak ka bagantuang. Aratinyo panutan di masyarakat, cadiak ka bakeh rang batanyo, kayo-ka tampek rang batenggang, bagak tumpuan ka mangadu. Satitiak katonyo di lauiktan, garak dibari jadi contoh, sifat ka suri jo tuladan, sumarak urang di nagari. Perduli dnegan lingkungan, baitu ungkapan maso kini. Sungguahpun beringin tinggi manjulang, tapi tingginyo manungawi bukan maimpok nan dibawah. Walau gadangnyo tabirumbun, gadang manenggang ka nan ketek, urang nan indak takuik talendo. Itulah sifaik pamimpin nak, samantang bapisau tajam indak sumbarang dirawikkan doh, jikok manembak baalamat jaleh sasaran makan pelor. Tapi kalau daram atteh lah nyo kabawah, karusuak siku bamain kamuko manggadang sipak, atau lah runciang juo nan barawik, lah nyato lurah tak babatu, marasau sajo dari ateh, bukanlah sifaik dek baringin nak. Ingeklah apo bilo kayu lah rabah, baa bana lah kagadangnyo, batang lapuak daun karegek usah diarok ka bapucuak, antah tindawan ka bungonyo. Tuah nan lamo ilang lalek jo loncek-loncek ka batonggok urang mancibia bakuliliang tangguang lah doso salamoko. Pahamkan bana tu Nak kanduang, ubek makan pantangan dikana jauah bala jo panyakik. Nan kaji baringin tangah padang, baa pulo nasib kiambang. Jikok kiambang ka dibaco itulah samalang-malang untuang nak. Iduik nyo manyisiah-nyiah kok ingok manapi-napi, katangah takuik dek galombang. Lai baurek indak cukam, tajuntai kapalang turun. Walaupun tumbuah di aia tapi tarandam-randam nyo tak basah, tarapuang-rapuang nyo tak anyuik. Biduak lalu awak basibak, dek angin badan batundo, kok kunun riak mahampehkan. Kiambang adolah simbol manusia rapuah, lamah darah bamental loyo. Sadangkan iduik ko parsainga nak, parang ganas medannyo kejam, tekad mambantu nan partamo, mansiu nan kaduo. Ragu-ragu dalam basikap bimbang satiok kaputusan, alamaik awak mati, satokok lah kalah sabalun parang. Urang panggamang mati jatuah nak, urang pandingin mati anyuik, takuik jo bayang-bayang surang. Dek sabab karano itu, yakin-yakin jo pandirian. Jaan bak payuang tagajai pasak co alang-alang lamah bingkai, sasiuik angin mandatang sasambua rinai manimpo awak lah kucuik mati aka. Tapi naiakkan panji-panji Ang yuang, bangkikkan Nur Muhammad kipehlah baro tungku batin. Sakali masuak ka galanggang, pantangkan babaliak pulang. Patah sayok batungkek paruah, lagu nan usah tabangkalai, cilako ayam disabuangan.

Kayu baringin bapucuak cewang ka langik, tinggi malepai awan biru, pidoman musafir lalu. Daun rimbun buliah bataduah, bakeh balinduang kaujanan, paneh kaganti payuang panji, ureknyo tampek baselo, batang nan gadang kasandaran, dahan nan rampak ka bagantuang. Aratinyo panutan di masyarakat, cadiak ka bakeh rang batanyo, kayo-ka tampek rang batenggang, bagak tumpuan ka mangadu. Satitiak katonyo di lauiktan, garak dibari jadi contoh, sifat ka suri jo tuladan, sumarak urang di nagari. Perduli dnegan lingkungan, baitu ungkapan maso kini. Sungguahpun beringin tinggi manjulang, tapi tingginyo manungawi bukan maimpok nan dibawah. Walau gadangnyo tabirumbun, gadang manenggang ka nan ketek, urang nan indak takuik talendo. Itulah sifaik pamimpin nak, samantang bapisau tajam indak sumbarang dirawikkan doh, jikok manembak baalamat jaleh sasaran makan pelor. Tapi kalau daram atteh lah nyo kabawah, karusuak siku bamain kamuko manggadang sipak, atau lah runciang juo nan barawik, lah nyato lurah tak babatu, marasau sajo dari ateh, bukanlah sifaik dek baringin nak. Ingeklah apo bilo kayu lah rabah, baa bana lah kagadangnyo, batang lapuak daun karegek usah diarok ka bapucuak, antah tindawan ka bungonyo. Tuah nan lamo ilang lalek jo loncek-loncek ka batonggok urang mancibia bakuliliang tangguang lah doso salamoko. Pahamkan bana tu Nak kanduang, ubek makan pantangan dikana jauah bala jo panyakik. Nan kaji baringin tangah padang, baa pulo nasib kiambang. Jikok kiambang ka dibaco itulah samalang-malang untuang nak. Iduik nyo manyisiah-nyiah kok ingok manapi-napi, katangah takuik dek galombang. Lai baurek indak cukam, tajuntai kapalang turun. Walaupun tumbuah di aia tapi tarandam-randam nyo tak basah, tarapuang-rapuang nyo tak anyuik. Biduak lalu awak basibak, dek angin badan batundo, kok kunun riak mahampehkan. Kiambang adolah simbol manusia rapuah, lamah darah bamental loyo. Sadangkan iduik ko parsainga nak, parang ganas medannyo kejam, tekad mambantu nan partamo, mansiu nan kaduo. Ragu-ragu dalam basikap bimbang satiok kaputusan, alamaik awak mati, satokok lah kalah sabalun parang. Urang panggamang mati jatuah nak, urang pandingin mati anyuik, takuik jo bayang-bayang surang. Dek sabab karano itu, yakin-yakin jo pandirian. Jaan bak payuang tagajai pasak co alang-alang lamah bingkai, sasiuik angin mandatang sasambua rinai manimpo awak lah kucuik mati aka. Tapi naiakkan panji-panji Ang yuang, bangkikkan Nur Muhammad kipehlah baro tungku batin. Sakali masuak ka galanggang, pantangkan babaliak pulang. Patah sayok batungkek paruah, lagu nan usah tabangkalai, cilako ayam disabuangan.

copas dari cimbuak.net

Pitaruah Ayah 2

Posted by Unknown | | Posted in , ,

Itulah tali sahalai pilin tigo, tungku tigo sajarangan. Kok waang nak samparono nak, manjadi urang baharago. Sajundun jasmani jo rohani, dunia dapek akhirat buliah. Mako sarek-kan kapalo jo pangatahuan, panuahkan dado jo ugamo, gasaklah paruik jo harato.Di ateh tungku nan tigo, sinan tajarang kahidupan, masak hakikat manusia insan nan kamil sabatangnyo. Tapi usah senjang, barek subalah nak, rumik naraco manimbangnyo. Kok cadiak sajo dibanggakan, hiduik bansaik tangan di bawah, tagigik lidah bapituah. Ameh hurai nan Ang sambuakan Yuang, loyanglah juo kecek urang.

Tapek bak bunyi buah pantun, kok rintiak bana kalodeta, lakek talilik di kapalo, kok cadiak bana kalau suka, kecek timpik di nan kayo. Baitupun awak binguang, maraso cadiak, kecek indak bakarunciangan. Disangko pitih pasak lidah, sombong takabua muaronyo. Gekang-bagekang siliah rarek, indak tau tampuak lah layua, lonjak-balonjak labu anyuik, isi gaja, ampo di dalam mahajan, tuah tarnamokan. Di baliak nan dari pado itu nak, kok di ateh isilah panuah, cadiak alah pandai pun inyo, nan di bawah muatan sarek, pitian sambua, bando malimpah. Tapi pasak ditangahnyo lungga, iman goyang, agamo tipih, hilang pidoman kapa basi. Andaknyo, kok kayo suko dmakan, ringan tangan manolong urang, rajin bazakaik, basidakah. Kok tumbuah awak urang cadiak, kusuik sato-lah manyalasaikan, karuah baringan mampajaniah. Maha cacek murah nasihat. Sinan nagari mako aman.Mako dari itu nak, satiok kakok ka diawai, rundiang sapatah ka disabuik. Bulek lah bana kato hati, sasuai dalam kiro-kiro, naiak-kan dulu ka daraik, caliak timbangan hukum syarak lai kok dalam ridha Allah. Itulah naraco nan tak paliang nak sarato bungkah nan piawai, indak mangicuah salamonyo.Anak kanduang balahan nyao, jarek samato Ayah-Bundo putuih tak jo-aa ka diuleh, sapihak ka b adan diri Ayah, urang nan bukan cadiak pandai, ilmu kurang sikola tangguang, mangaji tak sampai katam, rumik lah Ayah babarito. Ndak mungkin si bisu ka banyanyi, mustahil si lumpuah ka manari, baa rang buto ka mambimbiang. Hanyo dek sungguah rajin manyimak dari alam dapek baguru di sinan tibo pangajian. Mari kito cari rasionyo.
Dibalun sabalun kuku, dikambang saleba alam, alam takambang jadi guru, bumi jo langik ado di dalam. Kini nak Ayah curai Ayah papakan, tuah cilako nan talukih, dicaliak jo mato batin, diambiak ka ujuik paham sinan tasaiah ma’ananyo. Ado ampek suruhan, ampek tagah nak. Nan partamo iduiklah bak rumpun aua, usah dicontoh bak tibarau. Nan kaduo, tiru baringin tangah padang, jauahkan sifaik bak kiambang. Nan katigo, simaklah anau dalam rimbo, pantangkan jadi bio-bio. Dan nan kaampek, jadilah sarupo paku, ijan saroman jo binalu.Baa kakanyo rumpun aua, tapuntalang buluah bambu, nyampang tumbuah hitam tapi lereang tanah suko, tabiang mamuji. Kok indak lah urek nan mangungkuang taban bandaro sadionyo. Bukik pun indak taseso, lurah di bawah talinduangan, gagang manjelo dapek junjuang, maso rabuang carian urang, kok gadang banyak manfaat, lah tuo paguno juo. Baitu sifat ka dipakai nak. Dimanapun bumi dipijak, bila di kampung atau di rantau mambao rahmat ka rang banyak. Pandai-pandai jo masyarakat, tau-tau manenggang raso usah pamaha takuik rugi. Kok mangecek ma’agak-agak, pikiakan tiok ka bakato, tapi usah katokan nan tapikia. Sabab luko di pisau tampak darah, nak duo tigo taweh panawa, sanang nan tidak tampak bakeh, tapi luko di lidah sulik ubeknyo mandanyuik ka ubun-ubun, manggaga ka rantai hati. Di lua mungkin tak bakasan, di dalam manaruah kasam. Nan bak kain dimakan nyangek, lipek patahnyo tak barubah, dikambang nyanyai tiok ragi. Bak kato-kato rang tuo ko’ee “kaki tataruang inai badahannyo, muluik tun taloncek ameh tantangannyo”.

Salain nan dari pado itu, satinggi-satinggi batang batuang, pucuaknyo runduak ka bawah, manyilau bumi tampek tumbuah, guno nan tidak talupokan, sambia babisiak bakeh rabuang kok sampai kalian gadang isuak usah lupokan jaso tanah, tau mambaleh budi baiak. Lamahnyo pulo kadikatokan, maliuak di puta angin, manggerai dipupuik ribuik. Bak cando-cando ka tumbang, jangan ka patah ratak tido. Tapi tibo tapaso inyo kareh bisa malantiang ka udaro indak siapo ka manahan. Satiok rueh basambilu, tiok buku bamatang pulo langkok jo duri jo miangnyo, namun tabungkuih dalam kalupak, dari lua tak nampak rupo. Aratinyo, samantang awak diateh, usah pan-den palabiak dado kujua takabua tu namonyo. Balarang bana jo ugamo nak, tacacek sapanjang adaik. Urang iduik banyak batuah, urang mati banyak kiramaik. Lauik sati rantau babego taluaknyo baranjau pulo.

Ikhlas-ikhlas kalau manolong, suko-suko kalau baragiah mahamun sakali jangan. Sabaliaknyo, usah palupokan jaso urang, walau sahaluih bijo bayam, gadang faedah manfaatnyo, pamaaf saba jo rilah habiskan dandam kasumat. Bia urang baniat buruak awak babudi baiak juo. Pakaikan bana tu nak kanduang, usah dicayah dilengahkan, itu tantang buluah jo bambu.Ba’alah pulo jo tibarau. Cubo Ang danga Ang simakkan nak dapek paham hakimahnyo. Iduik tibarau barumpun-rumpun, batangnyo barueh-rueh, badaun panjang bakalupak. Kalau dipandang dari jauah, saroman bana bantuak tabu. Tapi di mamah ramba raia raso amba indak batantu, pangicuah gadang kironyo. Tarau ketek sabantuak jaguang, disilau indak babuah, bungo sahalai tak manaruah. Kalau-inyo tumbuah di lereang atau di tanah katinggian sinan tabukak rasionyo. Barambuih angin ka mudiak, tibarau madok ka mudiak, kokbakisa arah ka ilia inyo baputa kian pulo. Nyampang ditumpu dari ateh, lah sato maangguak-angguak urang diam inyo marumuak. Kian iyo, kamari iyo, lawan jo kawan samo iyo. Pendeknyo sagalo iyo, indak ado nan tidak iyo. Tibo Golkar lah masuak Golkar, urang P-3 inyo P-3, kampanye PDI paliang di muko, indak bapendirian. Aa kasudahannyo jadi anti mambungkuak, masuak karanjang tak baetong, kok pai indak manukuak, pulang indak maluahi, arago bara diri awak.Di dalam bahaso nasional tapeklah kok dikatokan bahwa inilah lambang kepalsuan, penuh kepura-puraan tanpa motivasi dan munafik sulit dipercaya. Awak ko musti jujur Nak, kok indak katokan indak kok lai tunjuakkan lai, usah takah-takah spuluik alun ditanak lah badarai, manipu diri sendiri. Lagak bak cando urang kayo, mangecek pantang di bawah, baa jeneang baa lah mantiak perak basapuah dijarinyo, sarawa bagantiak juo. Padohal baju basalang balagakkan yuang, tiok kalapau tiok utang cah bon, cah pinjaman, sakali indak babayaran, ditunggu urang diariaknyo. Anak cacak tabang ka benteang, tibo di benteang makan padi, awak rancak putiah, celeang diresek saku tak barisi. Jauahkan bana nan bak nantun nak. Hongeh kecek urang kampuang, bagunjiang urang suok kida.Ado pulo nan sok urang cadiak, manggaleh inyo nan santiang, impor ekspor buah tutua-nyo, bursa efek nan tau bana. Baisuak kawan disantuangnyo (heh…). Jo ugamo inyo nan paham, nak musarab Mantiak Maani tafsir khazen Imam Ghazali, kasurau tiok hari rayo. Jo politik tau daulu sajak nan dari orde baru, soal KBJ pembangunan sampai ke Irak ke Bosnia, ulu nuklir tanago atom Amerika, Asean juo (heh …). Awak bagak jo aruh balai, sihia jo gayuang ilmu batin, kungfu, karate, silek tuo sadonyo putuih dek baliau, di garegak lai basunguik nyo. Kok ota soal baguru pulo, anjiangnyo paliang batuah, lupak gerai nan hitam kulik, dado lapang jangkia tagantuang, pilang-pilang bapaneh pulo, sambilan bukik kajarannyo, kakandiak kakijang lamo, lah tigo liang kanai saiang, kabangkai sakali balun.

copas dari cimbuak.net

Pitaruah Ayah 1

Posted by Unknown | | Posted in ,

Ditulis oleh Dr. H. K. Suheimi Rabu, 30 Agustus 2006

Bismillahirahmanirrahim“Rabbish srahli sadri wayasirli amri wahlul u’k datam millisani yaf kahu kauli.”
o… nak kanduang sibirang tulang, buah hati limpo bakuruang, ubek jariah palarai damam, sidingin tampa di kapalo. Kamari-mari molah duduak, ado rundiang ayah Sampaikan.Kalau diliek dipandangi nak, dicaliak umua nan tapakai, badan Ayah baransua tuo, kini manjalang anam puluah. Hari patang mantari turun, awan di barat merah sago, malam nan tidak lamo lai. Nyampang tibo saruan Allah, aja sampai capek paminto umua alah tibo dijangkauan. Tabuah digoa tigo-tigo, badan baganjua baliak pulang katampek asa mulo jadi suruik ka tanah nan sabingkah. Badarun aia pamandian, ba lasia bunyi cabiak kapan, dikocong dikabek limo, cukuik satanggi jo aia bungo. Bararak tandu ka surau, tibo di surau dibujuakan, mairiang shalat ampek takbir.
Kini manuju ka pusaro, iyo ka pandam pakuburan. tagolek di liang lahat, tanah sakapa bapakalang, mahereang mahadok ka kiblat, dibateh papan nan sahalai. Badaro tanah panimbunan, tatagak mejan nan duo, manyalo ciluang hitam, do’a dibaco panghabisan. Tujuah langakah mayik di kubua, nak datang malaikaik pai batanyo. Tapi jangankan tanyo ka tajawab, usaha ndak hawa katabandiang, utang ke anak nan takana, kasiah tagaiang alun sampai.Jo kok basuo nan bak nantun nak, taradok pusako ka bajawek ataupun warih ka di baia, usah diarok dari ayah. Sabab baalah baitu, salamo dunia di tunggu, Ayah diseso parasaian, gilo diarak-arak untuang. Tapi kaganti ameh, bak di urang timbalam, pitih nan babilang, hanyo pitaruah batinggakan, banamo pitaruah Ayah. Itulah tando kasiah sayang, utang nan nyato pado anak, kini ayah lansaikan.
Dangakan molah anak kanduang, simakkan bana nyato-nyato. Satitiak usah lupokan, sabarih janganlah hilang, ganggam arek, paciak tantaguah. Siang ambiklah ka patungkek, kok malam jadikan suluah pidoman patang jo pagi.Takalo maso dulunyo, awal mulonyo san kalahia, bundo di dalam pasawangan sadang dilamun-lamun ombak, angin badai, lauik manggilo, kilek patuih hujan basabuang, kalam nan bukan alang-alang. Lua ke Allah, bagantuang indak kamano ka manggapai. Dek lamo lambek badayuang, sapueh-pueh panangguangan sampailah juo di Kualo. Tali turun sauh dibuang, kapa marapek di tapian balabuah surang pasisianyo. Sawajah kapado urang nantun nak, mandi darah sakujua badan, kakinyo malajang-lajang, taganggam tangan nan duo, bunyi pakiak sapanuah kampuang cando Pandeka dapek lawan. O . . . buyuang, kok ang nak tahu, itulah anak manusia nan lahia ka bumi Allah nangko lahia sarato jo untuangnyo.Adopun tujuan jo mukasuiknyo, mangko jo darah samo tibo, sirah hati pakek panganan lambang barani, lahia batin indak manaruah gamang-takuik. Mangapa tangan suok kida mandongkak, manyipak-nyipak, itu ma’ana urang bagak, medan galanggang nan nyo hadang cakak nan tidak kunjuang damai. Pakiak bukan sumbarang pakiak, sorak kumando dilewatkan ibaraik badia jo mariam, tando nagari dalam parang.Mako pado hakikatnyo nak, hiduik adolah perjuangan dan satiok perjuangan bakandak manang. Kamanangan janjang ka istana manuju kirisi di partuan. Sasungguahnyo manusia adolah rajo, badaulat di muko bumi Allah bana nan manobatkan, “Inni ja’ilu fil ardhi khalifah”.
Untuak itu Ayah pasankan nak, usah manjadi rajo kalah. nan bajalan manakua-nakua. mangecek tatagun-tagun, hilang banso punah martabat. Manambah gantang tatanakkan, manyamak dalam nagari. Kalau Waang nak tau juo nak, iduik nangko indaklah lamo, dunia hanyo sakijok mato. Caliaklah contoh jo ibaraik, maso laia di songsong abang, mati di anta dek sumbayang. Antaro abang jo sumbayang, sinan kamat dibacokan hinggo itulah jatah umua. Bakato Muhammad Iqbal, apolah kato dek baliau:“Umur bukan ukuran masa, hidup tidak takaran zaman, sehari singa di rimba, seribu tahun bagi si domba”.

Ma’ana manjadi singo nak, bukan manggadang bakato darek bakitabullah di tangan, kandak badannyo awak surang. Indak nak, bukan baitu filsafahnyo, tapi bialah satahun jaguang, pagunokan maso nan pendek, bapacu marabuik buko mambuek amal kabaikan. Baguno ka diri surang, tapakai di masyarakat, manfaat salingkuang alam. Untuak apo panjang bajelo, hinggo batungkek saluang api, kalau awak kiliran tangan masak lacuik, makan parentah. Kok kunun pulo, kuma bamiang manggata di dalam kampuang, cilako hiduik tu namonyo.Salampiah nan dari pado itu, umua bukan sabateh kubua, hiduik bukan salacuik abiah. Tapi adoh hiduik sasudah hiduik. Panjang nan tidak kaujuangan nak. Itulah hiduik di akhirat, kamari tujuan sabananyo. Takalo insan di alam roh, janji-lah sudah tapabuek, patimbang muluik dengan Allah, makhluk kata An-Khalik nyo.Kito mamaciak tali kamba nak, usah kandua tagang salampiah, dunia akhirat satimbangan. Nyampang kok putuih kaduonyo sinan tahanyuik handam karam. Kini di rintang angan-angan, isuak diseso panyasalan.di dunia rintang jo ratok, di akhirat gilo jo gagau, kalamlah jalan ka sarugo.
Mangana sakah nan bak kian nak, Ayah bapasan, bawasiat, rantangkan banang ka langik, hubuangkan diri jo Tuhan. Jalin kulindan ateh bumi, paharek buhua jo manusia. “Hablum minallah wa hamblum minannas”. Itulah cancangan duo sagarajai, kapa nan duo salabuahan, samo dek awak kaduonyo.Mano nak kanduang jo nyo Ayah, ijanklah bosan mandangakan, mangecek indak ka lamo, taga dek seso manyimpannyo. Jikok anak taruih mamandang, simak jo daliah mato batin. Adopun tubuah manusia tarbangun dari tigo rungo. Partamo, runggo diateh, kaduo runggo di tangah, katigo runggo di bawah.Nan dimukasuik jo runggo ateh, iolah ruang di kapalo, bakandak isi pangatahuan, ibaraik dinamo masin kapa, ulu tanago baliang-baliang, pambalah aia di lauik-tan. Tasabuik runggo di tangah, yaitu dado rumpun hati, sangka iman lubuak agamo, ikolah pidoman juru mudi, kaganti kompas di nan kodoh. Jan sampai sasek palayaran, hilang tujuan tanah tapi.
Salorong runggo do bawah nak, paruik nan mintak dikanyangkan, umpamo parka tampek barang. Tansano muatan kosong alamaik oleang jalan kapa, dihampeh ombak jo galombang, manantang karam tak batumpang. Atau kalaulah buliah Ayah misalkan kapado alam Minang kabau tardiri dari tigo luhak. Partamo, luhak nan tuo. Lambang kuciang warnanyo kuniang. Kuciang itu binatang lihai, tinggi pangaruah, berwibawa. Kuniang tando kamanangan. Tujuannyo, urang cadiak adi kuasa, sumber ilmu pangatahuan, “Sains Tekhnologi” kato rang kini. Kaduo, luhak nan tangah. Simbol sirah harimau campo, barani karano bana, hukumpun tidak makan bandiang banamo parentah syarak. Calak alah tajam pun ado, tingga dek bawa manyampaikan. adaik alah syarak pun ado, tingga dek awak mamakaikan, moral, spiritual, istilah baru. Nan katigo, luhak nan bungsu. Corak hitam lambangnyo kambiang, rila jo saba bausaho, rumpuik nan indak pantang daun, dek padi mangko manjadi, dek ameh mangkonyo kamek. Mangecek iyo jo pitih, bajalan tantu jo kain, karajo tantu jo nasi, ekonomi baso canggihnyo.

bersambung Catatan : Tulisan ini ditulis oleh Bp. Dr. H. Suheimi atas ijin Yus datuak Parpatiah yang diambil dari sebuah bidaran minang, berjudul “Pitaruah Ayah”. Disusun dan disampaikan sendiri oleh Angku Yus Datuak Parpatiah. Pesan-pesan kaset ini khusus diperuntukkan buat anak kemenakan-ku, generasi remaja Minangkabau, semoga ada manfaatnya, Harapan kami. Atas segala kekhilafan dan kekurangan mohon diberi maaf yang sebesar-besarnya. Terima kasih.Dr. H. K. Suheimi

copas dari cimbuak.net

Alam takambang jadikan guru

Posted by Unknown | Kamis, 12 April 2012 | Posted in , , ,


 
By : Buya H.Mas’oed Abidin

Urang Minangkabau pado umumnyo sangaik amuah maambiak pitunjuak jo pangajaran dari pangalaman-pangalaman hiduik urang-urang tuo nan dahulu. Pangalaman nantun bagi anak-anak cucu urang Minangkabau dipakai sabagai suri tauladan dan juo diambiak sabagai kaco parbandiangan dalam manampuah hiduik salanjuik-no. Pangalaman adolah guru nan paliang baiak. Sasuai jo pasan dari urang-tuo-tuo kito, ma ambiak contoh ka nan sudah (atau ka nan alah balalu), jo ma ambiak tuah ka nan bana (indak sajo ka nan manang, karano nan manang nan-tun alun tantu salalu bana, tapi nan bana tu salalu ka manang lambek jo laun no).

Karano tu anak cucu urang Minangkabau sajak dari ketek no alah di ajari bana-bana mangarati dalam mambaco alam nan takambang nan-ko untuak ka dijadikan
guru. Mambaco buku nan banamo alam takambang nantun sangaik mamaralukan bana ka-arifan. Karano halaman no laweh, indak ta muek didalam gaduang-gaduang parpustakaan atau di dalam gudang-gudang buku doh.
Tapi, kalau kito bisa mamahaminyo sacaro mandalam, dan isi-no bisa pulo dikambangkan untuak manampuah hiduik nangko, Insya Allah tantu salamaik kito jadino.

Ibaraik kato urang tuo-tuo kito, kok di punta sabalun kuku, kok nyo di rantang sa laweh alam, baitulah sipaiknyo.

Urang-urang tuo Minangkabau, sajak mulonya pandai bana baraja dari kajadian-kajadian alam (akibaik-akibaik nan ado di tangah-tangah alam).

Makonyo pangajaran-pangajaran saroman nantun dibaco-baco salalu jo dikana-kana salamonyo. Labiah-labiah nan batalian jo tingkah kurenah hiduik di ateh bumi Allah nangko.

Pangajaran nan sarupo tu sajalan bana jo paringatan agamo kito Islam nan mangatokan : “siiruu fil ardhi, fan-dzuruu kaifa kaana aqibatul mukadz-dzibiina” aratino, bajalanlah di muko bumi, calieklah (palajarilah) baa akibaik-akibaik nan di timpokan kapado urang-urang nan mandutokan (mukasuikno urang-urang nan mandutokan paringatan-paringatan Allah).

Alam ma ajakan kapado kito, bahaso paneh jo hujan babalasan. Ma ajakan pulo bahaso Allah alah manjadikan sagalo sapasang, sagalo duo. Ado ketek ado lo gadang, ado sakik tando ado sanang, ado maju ado loh mundur, ado mudo ado gaek, ado hiduik pasti ado mati.

Jadi pangalaman hiduik di ateh alam nan saroman tu, manjadikan kito maliek apo nan ado di baliak nan tampak, pandai mambaco di baliak nan sadang dirasoan, indak hanyo sakadar tatuju (ta-fokus kato urang kini) kapado pandangan mato sajo.

Tapi labiah jauah kabulakang, ka nan tasirek disubaliak nan tasurek. Saroman tu bana aluihno pangajaran nan dibarikan dek alam ko, nan di ajakan dek rang tuo-tuo saisuak sahinggo anak cucu rang Minangkabau tumbuah manjadi generasi nan arih-candokio (bukannyo arih cando ka iyo).

Urang Minangkabau sangaik pandai mampagunokan kato-kato, nan banyak manganduang pangajaran [panuah arati] banyak barisi kieh jo bandiang.

Disinan tu talatak ka labihan kito dari urang-urang lain, nan indak hanyo sakadar mambaco apo nan tampak, tu sajo.

Inyo indak mangecek apo nan takana, tapi labiah dahulu mangana-ngana apo nan ka disampaaikan-no. Ikolah tando urang nan arih bijaksano, nan tau di ereng jo di gendeang, nan tau rantaiang nan ka malantiang, atau tau pulo di batu nan ka manaruang. Indak manyarundak se do kian ka mari, bak ibaraik ilimu babi.

Lai ko ka manyingung urang ka naik, atau lai goh kamelendo urang ka turun.

Baitulah kalau kito namuah maambiak pangaja ka bakeh alam nan takambang ko untuak di jadikan guru, Insya Allah tantu kita manjadi umaik nan pandai hiduik, jo indak mungkin putuih aso hilang sumangaik.

Ikolah nan sajak dahulu di sabuik-sabuik dalam pasan rang tuo-tuo kito, di maa bumi di pijak di sinan rantiang di patah, di maa langik di jujuang, disinan adaik baapakai.

Kok badan pai marantau, jan di lupokan, iyu bali balaanakpun di bali, ikan panjang bali dahulu. Ibu cari, dunsanak-pun dicari, induak samang cari dahulu.Sabarek-barek baban nan singguluang usah di tinggakan, sa jauah-jauah bajalan nan kampuang usah di lupokan.

Baitu lo kalau alam takambang di jadikan guru, sa tinggi-tinggi tabang bangau, dibancah juo kahinggokno. Sajauh-jauh marantau, ka kampuang juo babaliakno.Mudah-mudahan kito basamo dapek maambiak hikmah dari padono. Amin.



Sumber  :     http://urangminang.com/

Nasehat Mandeh, Adaik Barumah Tanggo

Posted by Unknown | | Posted in , ,


  "Oi nak bungsu Siti Budiman , upiak kamari malah duduak, elok kito badakek dakek, elok kito bampiang ampiang, nak tahu dipadeh lado, nak tahu dimasin garam, nak dapek paham jo mukasuik, barundiang sapatah duo patah, nak masuak kahati kau, amak kito bapadu badan amak batuluak jo baandaialah kok dapek tu nak kanduang ilmu urang basuami?"

Manyahuik Siti Budiman: "Kok itu mandeh tanyokan, mandeh malihek tiok hari, hambo indak turun tanah, gilo diateh rumah sajo, indak bajalan kiri kanan , siapo pulo kamaajari? Mandeh lah lamo manunjuakkan, mandeh lah lupo tantang itu."

Manjawab Siti Juhari:"O nak denai Siti Budiman , makan pahamnyo habih2, dangakan pangaja mandeh kanduang, pituah niniak kanduang kau, iyolah ayah kanduang mandeh, bagala Tuanku Rajo Bana." Tantang ilmu urang basuami, kok sampai anak bajunjuangan , pabaiak piiek kalakuan, paelok laku jo taratik, datang suami dari jauah, sambuiklah jo muko manih, hidangkan minum jo makannyo, paliekkan ati nan suci. Kok barundiang samo gadang, aibnyo nan usah dibukakkan, sabagaimano akal budi, tutuik dek upiak mati mati, saangok jan mangok, saangin jan buliah lalu, parik paga dianak kanduang tapi usah talampau bana, kok tampak pulo budi awak, manungkuih tulang jo daun taleh, manyuruak dibawah lumbuang, kana pulo tu nak kanduang.

Inyo kok indak datang amek, atau kok inyo indak kunjuang pulang, jan maupek tantang nantun, kana kok inyo sadang sansaro, rida jo saba dipaliekkan, urang saba kasihan Allah. Kok maraso raso juo kok indak manyanang diati, liek inyo sadang suko, sadang duduak surang, ajak saketek bakucindan, sambia manyingguang jo kiasan. Kalau suami urang baiak, gadang raso dalam atinyo, inyo dicancang jo nan maja, jan dicatuak jo nan tajam

Ciek lai bundo katokan tantangan makanan jo minumannyo salalu sadiokan dek upiak, tasaji baiak ateh dulang. Kok datang urang mananyokanyo dan inyo sadang
bajalan , baduto upiak saketek, asuang pitonah jan lalu, baru turun sabantako alun jauah lei inyo bajalan.

Kok anak nak kapakan mamintak izin bakek inyo, kok upiak naiak bendi nan usah sabendi jo urang lain nan bukan dunsanaknyo. Jiko sabendi jo urang lain basingguang kain samo kain itu pantangan urang tuo, mato palingan setan, ati palingan Allah, abih gili dek galitik, hilang malu dek biaso. Kok padusi indak pamalu, jadi cacek saumua hiduik, bak pintu indak bapasak, mudah rang maliang mamasuki, bak parahu indak bakamudi, biaso sasek dalam balayia.

Oh upiak sibiran tulang, pagang bana pituah mandeh, buhua dalam kabek pinggang, buruak urang dek lakunyo, roman nan indak dapek diubah tapi laku jo parangai lai dapek.

Kok basuo jo urang lain kok duduak ditangah rami atau didalam alek jamu, caliak nan usah dipatinggi, mato usah dipalia, pandang sakali lalu sajo, usah galak dipabahak.

Lambak nan dari pado itu, sopan dan santun tak babateh, baso jo basi tak bahinggo, bia jo laki awak bana, janlah ilang baso basi, pamanih muluik upiak tu, gadangkan inyo ditangah rami, muliakan inyo dimuko rapek.Sekian sedikit kutipan. Tantang Adaik barumah tanggo.

Wassalam,
Bundo nan masih rangkik2 dan latiah dari bajalan jauah,
Hayatun Nismah Rumzy



Sumber : http://urangminang.com/

Pituah Rang Gaek

Posted by Unknown | | Posted in , , ,


Katiko Payuang Alun Takambang Gabak Dihulu Lah Jadi Hujan
Cewang dilangik lah lamo Pai
Lah Abih Pulo Umpan Dek Aia
Iman Baganti Pangana Ilang
Antah Dimano Jalan Kapulang


Nagari Rancak Marwah Kok Hilang
Marawa Kuyuik Dek Labek Hujan
Manangih Bundo Dirumah Gadang
Oi Anak Oi, Bilo Lai Kasumbayang

Antah Kok Mamak Salah Pituah
Antah Kamanakan NAn Salah Tarimo
Iduik Baraka Mati Bariman
Aka Panjang Iman Kok Ilang

Suluah Bendang Dalam Nagari
Urang Cadiak Dimanyo Kini
Ya Allah Tuhan Allahu Rabbi
Agiah Pitunjuak Anak Kamanakan Kami
Slamaikan Juo Nagari Kami
Minangkabau Pautan Hati

Disabuik Sado NAn Tau
Nan Tingga Untuk Nan Santiang
Kok Banyak Salah Jo Sumbang
Sabaleh Jo Kapalo Ditakuakan
Kanan Pandai Kito Baguru
Mamintak Kita Ka Nan Satu



Sumber   :     http://urangminang.com/

Ratok Gadih Suayan

Posted by Unknown | | Posted in


Disadur dari sebuah cerita pendek karya Dahmuri Muhammad.
FYI, Nagari Suayan terletak di Kecamatan Akabiluru, Kabupaten 50 Kota, Propinsi Sumatera Barat.
***
Di mana ada kematian, di sana ada Raisya, janda beranak satu yang bibir pipihnya masih menyisakan kecantikan masa belia. Ia pasti datang meski tanpa diundang. Di dusun Suayan ini, kabar baik dihimbaukan, kabar buruk berhamburan. Maka, bilamana kabar kematian dimaklumatkan, orang-orang akan bergegas menuju rumah mendiang.
Begitu pula Raisya. Tapi ia tidak bakal ikut-ikutan sibuk meramu daun serai, pandan wangi dan minyak kesturi sebelum jenazah dimandikan, tidak pula memetik bunga-bunga guna ditabur di tanah makam seperti kesibukan para pelayat perempuan. Raisya hanya akan mengisi tempat yang telah tersedia, di samping pembaringan mendiang, lalu meratap sejadi-jadinya, sekeras-kerasnya, sepilu-pilunya.
Duduk, berdiri, melonjak-lonjak, menghentak-hentakkan kaki, berputar-putar mengelilingi jenazah sambil terus menyebut-nyebut dan memuji tabiat baik mendiang semasa hidup. Ada irama di suara tangisnya, kadang seperti melantunkan sebuah nyanyian yang memiuh-miuh ulu hati. Lagu kematian itu serasi dengan entak kakinya. Ratapan, tarian, nyanyian, bersekutu jadi satu.
Remuknya perasaan tuan rumah tidak mampu menandingi dalamnya kepiluan Raisya, tukang ratap yang telah mahir menanak risau itu. Mendengar ratapannya, mungkin Raisya lebih berduka ketimbang keluarga mendiang. Padahal ia bukan siapa-siapa, hanya tukang ratap yang terbiasa mendulang perih rasa kehilangan di setiap kematian yang dijenguknya.
Ada dua penyebab yang membuat orang-orang gampang mengingat dusun Suayan. Sebab pertama, perempuan paruh baya bernama Raisya, tukang ratap itu. Namanya masyhur berkat kepiawaian meratap. Kerap ia dijemput-antar oleh karib kerabat yang sedang tertimpa musibah kematian. Mereka datang dari dusun-dusun tak terduga, guna memohon kematian itu diratapi. Bagi mereka, kematian kurang khidmat tanpa ratapan Raisya. Sebab kedua, Suayan gampang dikenang karena dusun itu pabrik jodoh.
Bila tuan sedang bimbang untuk menjatuhkan pilihan perihal gadis mana yang bakal tuan persunting, barangkali tak ada salahnya tuan berkunjung ke Suayan. Bisa jadi tuan bakal abai dengan pilihan-pilihan tuan sebelumnya. Sebab, di dusun Suayan, meminang perempuan dalam keadaan mata terpicing pun dijamin tidak salah pilih.
Sembilan dari sepuluh laki-laki pencari jodoh yang datang ke Suayan berhasil menggondol pasangan. Kalaupun ada yang gagal, sebabnya pasti bukan pada pihak perempuan, tapi karena pihak laki-laki tidak sanggup membayar uang pinangan yang terbilang mahal. Harga pinangan termurah untuk gadis Suayan cukup untuk menebus empat bidang ladang yang tergadai.
Konon, hidup orang-orang Suayan terselamatkan oleh pinangan demi pinangan. Memiliki anak perempuan di dusun Suayan seperti menyimpan celengan gemuk yang sewaktu-waktu bisa dibanting-empaskan, tentu setelah pinangan datang. Dan, celakalah setiap keluarga yang tidak punya anak perempuan. Mereka terpuruk di kerak kemelaratan.
Sejak dulu kecantikan gadis-gadis Suayan belum terkalahkan oleh perempuan-perempuan di dusun mana pun. Dusun Suayan memang bukan daerah subur penghasil Damar atau Gambir sebagaimana dusun-dusun lain. Tanahnya gersang, padi tak menjadi, hampa sebelum berbuah. Tapi Tuhan memberi anugerah dari pintu yang tak diduga-duga. Bayi-bayi perempuan selalu terlahir dengan kecantikan yang menakjubkan.
Mereka tumbuh dan mendewasa menjadi gadis-gadis yang memiliki bibir pipih seperti bibir Raisya, pipi merah merona, kulit mulus seperti kulit orang Jepang, hidung mancung seperti hidung orang Arab. Postur tubuh tinggi, langsing, sintal seperti bintang film. Bila bintang film yang kerap mereka lihat di layar tivi itu tampak anggun dan molek karena olesan bedak yang berlapis tujuh, maka kecantikan gadis-gadis Suayan mukjizat yang jatuh dari langit, bawaan sejak dari rahim.
Tanpa olesan bedak dan lipstik pun wajah mereka sudah memancarkan aura kecantikan yang mencengangkan. Siapa tak tergiur? Dusun Suayan seamsal hamparan ladang luas tempat bersitumbuhnya bunga-bunga anggun segala rupa, tiada pernah langkas, meski kumbang-kumbang datang silih berganti.
“Bagaimana Raisya? Sekarang atau tidak sama sekali!” desak Datuk Pucuk, penghulu suku Pilawas, suku Raisya.
Seorang lelaki datang hendak meminang Laila, anak gadis Raisya. Satu-satunya.
“Tidak! Biarkan dia melanjutkan sekolah,” sangkal Raisya. Tegas.
“Sekolah? Kau akan menguliahkan Laila dengan upah meratap? Berapa banyak kematian harus kau tunggu?”
“Terimalah pinangan itu! Hidupnya bakal selamat dengan lelaki itu. Juga hidupmu. Tak perlu kau menunggu-nunggu kabar kematian lagi.”
“Tak ada kematian pun aku tetap meratap!”
Memandang raut wajah Laila serasa menatap Raisya. Ada jernih mata Raisya di jernih matanya. Ada pipih bibir Raisya di pipih bibirnya. Ada alis Raisya di alisnya (tebal, hitam, nyaris bertaut). Tapi, bakal adakah malang nasib Raisya di malang nasibnya? Raisya tidak mau itu terjadi. Laila tak boleh kawin muda. Jangan sampai ia terbujuk godaan para pencari jodoh yang berhamburan ke dusun ini, seperti berhamburannya orang-orang selepas mendengar kabar kematian.
Raisya tidak rela Laila hanya menjadi sebatang tebu yang disesap rasa manisnya, setelah jadi ampas, dicampakkan begitu saja, seperti yang dialaminya di masa lalu. Waktu itu Raisya baru lulus tsanawiyah, Nurman meminangnya. Mentah-mentah ia menolak pinangan ganjil itu. Tapi siapa berani melawan kehendak Datuk Pucuk? Satu-satunya keluarga Raisya yang tersisa. Dengan berat hati ia mengubur segala impian. Rela ia diperistri Nurman, lelaki yang sebenarnya lebih patut menjadi ayahnya.
Raisya daun muda ketiga yang takluk di tangan tauke Damar itu. Dari gunjing yang berserak di dusun Suayan, ada kabar tak sedap, dengan perjodohan itu Datuk Pucuk sesungguhnya tidak hendak menyelamatkan hidup Raisya, kemenakannya itu, tapi hendak menyelamatkan hidup anak-bininya sendiri. Belakangan Raisya tahu, adik kandung mendiang ibunya itu sedang terlilit utang, dan ia membayarnya dengan menyerahkan Raisya pada Nurman.
Hanya berselang beberapa bulan setelah kelahiran Laila, Nurman lagi-lagi memetik daun muda. Dipersuntingnya Bunaiya, sahabat karib Raisya sewaktu bersekolah dulu. Tiada alasan yang absah saat Nurman meninggalkan Raisya. Barangkali hanya karena lelaki itu sudah hilang gairah sebab tubuh Raisya tak montok lagi. Ia sibuk mengurus anak, lupa merawat tubuhnya sendiri.
Kabar terakhir yang didengar Raisya, suaminya pergi karena memang begitulah perjanjiannya dengan Datuk Pucuk. Ia sanggup membayar pinangan seharga dua ekor sapi jantan, hanya untuk mencicip ranum tubuh Raisya. Utang-utang Datuk Pucuk lunas, Raisya punya anak, Nurman pergi, dan kawin lagi. Sejak itu Raisya hidup sendiri, menghidupi anak tanpa suami. Laila yatim meski ayahnya belum mati.
Semasa bersekolah dulu, Raisya bintang kasidah. Napasnya panjang, suaranya tinggi, nyaring. Bila tampil di panggung, lengking suaranya membuat para penonton melonjak-lonjak girang, lebih-lebih kalau ia menyanyikan ya rabbi barik. Tartilnya benar-benar seperti tartil orang Arab, cengkok suaranya membuat penonton terenyak dan berdecak kagum.
Tapi sejak menjadi istri orang, nama Raisya seolah menguap, tak pernah lagi ia tampil di atas panggung, kalah bersaing dengan biduan-biduan muda yang suara dan penampilan mereka lebih cemerlang. Raisya kehilangan banyak hal, empat bidang ladang peninggalan orangtuanya dikuasai Datuk Pucuk, kehilangan suami, dan tentu saja; kehilangan ranum tubuhnya.
Mak Sima, sesepuh suku Pilawas merasa terpanggil untuk meringankan beban Raisya. Ia mewariskan kepandaian meratap pada janda muda itu. Setidaknya ia bisa membesarkan Laila dari upah meratap.
“Kau sudah punya syarat-rukunnya, Raisya. Akan lekas mahir,” bujuk Mak Sima waktu itu.
“Aku sudah tua. Kau penggantiku! Jadilah tukang ratap yang bisa menyelami lubuk kepiluan lebih dalam dari selaman keluarga mendiang.”
“Bukankah kau sudah terlatih menanak risau?”
Setelah berhari-hari terkapar di tempat tidur akhirnya lelaki itu meninggal juga. Tak ada yang tahu penyakit apa yang dideritanya. Belakangan ini ia kerap batuk-batuk kering. Tiga dari lima kali batuknya disertai muntah. Sebesar jeruk purut gumpalan darah keluar dari mulutnya.
Susah ia tidur karena batuk-batuk keras itu tak kunjung reda, hingga tubuhnya terkulai tak bertenaga, kencing dan berak dipacakkannya saja di kasur. Bunaiya, istrinya, sudah berkali-kali membujuk agar ia mau dibawa ke rumah sakit, tapi ia menolak. Ini penyakit tua, tak akan lama, rintihnya.
Kini jenazahnya sudah dimandikan, sudah pula diyasinkan, dishalatkan, tinggal menunggu waktu sebelum diusung ke pekuburan. Tapi sebagaimana kebiasaan orang-orang dusun Suayan, kurang sempurna upacara kematian jika belum diratapi. Maka, jenazahnya masih dibaringkan di ruang tengah rumah itu, menunggu kedatangan Raisya, si tukang ratap.
“Bagaimana mungkin Raisya meratapi orang yang telah membuat ia meratap seumur-umur?” tanya Bunaiya.
“Tak usah cemaskan soal itu. Bila kematian ini tak diratapi, apa kata orang nanti?” bujuk Wan Uncu, kakak laki-laki Bunaiya.
“Raisya harus dijemput! Ia satu-satunya tukang ratap di dusun ini. “
Sejatinya Raisya tidak pernah berdoa memohon kematian meski hidupnya sangat bergantung pada kematian. Untunglah hari ini datang juga kabar buruk itu. Ia akan meratap sebagaimana lazimnya, beroleh upah, lalu pulang. Meski yang akan diratapinya mendiang Nurman, bekas suaminya, lelaki yang telah menghancurkan hidupnya. Ada tak ada kematian, Raisya tetap meratap. Itu karena ulah Nurman!
Di samping pembaringan mendiang, Raisya meratap sekeras-kerasnya, sepilu-pilunya, sejadi-jadinya. Tak ada yang tahu apakah Raisya benar-benar menyelam di kerak kepiluan, atau dalam ratap itu ia justru menyimpan amarah yang tak terkata.
NB: Jika anda suka artikel ini, silakan share ke teman anda di Facebook, MySpace, Twitter, Digg, dll.Silahkan klik logo dibawah ini,Terima kasih.


sumber  :    http://urangminang.com/
Latest Posts :

Hotel

Kuliner

Wisata

Artikel Lainnya » » More on this category » Artikel Lainnya » »

Musik

Tari

Ukiran

Artikel Lainnya » » Artikel Lainnya » » Artikel Lainnya » »

Top Post

Coment

Adat

Artikel Lainnya»

Budaya

Artikel Lainnya »

Sejarah

Artikel Lainnya »

Tradisi

Artikel Lainnya »

Di Likee "Yaaa.." Kalau Postingan Di sini Sangat Bermanfaat Dan Membantu bagi Anda ..