Headlines

Peran Surau di Minangkabau

Posted by Unknown | Rabu, 12 September 2012 | Posted in , ,


Oleh : Ahmad Taufik Hidayat (Diedit : Muhammad Ilham)
Secara tradisional, ada dua arena pembentukkan karakter masyarakat Minangkabau, Surau dan lapau. Keduanya sangat berpengaruh besar dalam perkembangan mental masyarakat ini.
Surau adalah lambang kesakralan mencerminkan sikap relijius, sopan santun serta kepatuhan kepada Allah, sedangkan lapau mencerminkan aspek keduniawiyan (profan) yang mengandung kekerasan, keberanian. Kecendrungan perkembangan anak-anak suku Minangkabau ditentukan dari banyaknya porsi waktu yang mereka habiskan sebagai bagian hidupnya sehari-hari dari tempat ini. jika seorang anak lebih banyak berada di lapau tanpa pernah mengaji di Surau, maka orang menyebut mereka parewa. Sebaliknya, jika waktu yang dihabiskan oleh seseorang lebih banyak di Surau, maka orang itu disebut urang siak atau pakiah. Karena itu, dari aspek mental keagamaan, bagi masyarakat tradisional Minang, terutama kaum pria-nya, fungsi Surau jauh lebih penting dalam membentuk karakter mereka di kemudian hari. Selain untuk memperoleh informasi keagamaan, juga dijadikan ajang bersosialisasi. Semenjak berumur 6 tahun, kaum pria telah akrab dengan lingkungan Surau. Struktur bangunan rumah tradisional orang Minang yang dikenal dengan rumah gadang memang tidak menyediakan kamar bagi anak laki-laki. Karena itu, setelah berumur 6 tahun, anak laki-laki di Minangkabau seperti terusir dari rumah induk. Hanya pada maktu siang hari mereka boleh bertempat di rumah guna membantu keperluan sehari-hari. Sedangkan pada waktu malam, mereka harus menginap di Surau. Selain karena tidak disediakan tempat, mereka juga merasa risih untuk berkumpul dengan urang sumando (suami dari kakak/adik perempuan) dan mendapat ejekan dari orang-orang karena masih tidur dengan ibu. Dalam ucapan yang khas, lalok di bawah katiak mande. Di Surau mereka bukan sekedar menginap. Banyak aktifitas penting yang mereka lakukan di sana. Belajar silat, adat istiadat, randai, indang menyalin tambo dilaksanakan berbarengan dengan aktifitas keagamaan seperti belajar tarekat, mengaji, shalat, salawat, barzanji dan lainnya. Karakter pembentukan Islam tradisional sesungguhnya berangkat dari aktifitas seperti ini.

Demikian besar fungsi Surau bagi perkembangan generasi muda Minang pada masa lalu. Karena itu sungguh sebuah ironi, bila lembaga yang demikian strategis akhirnya mengalah pada perubahan. Surau mewadahi proses lengkap dari sebuah regenerasi masyarakat Minang, sesuatu yang sulit dicari tandingannya dalam kultur manapun di dunia ini. Segala kebutuhan yang bersifat praktis, skill, kebijaksanaan, tutur kata dan tata krama yang diperlukan orang Minang pada masa dewasanya sebagian besar diperoleh di Surau. Adat budaya yang mengacu pada konsepsi alam takambang jadi guru yang melahirkan kebijkasanaan sehingga orang Minang harus tahu di nan-ampek (kato mandaki, kato manurun, kato mandata dan kato malereang), adalah bentuk kearifan yang diperoleh melalui pelatihan terpadu yang mengintegrasikan antara konsepsi ideologis dengan norma-norma budaya dan praktis lewat lembaga semacam Surau. Masyarakat tardisional yang di-back up oleh adat sangat kaya dengan prinsip-prinsip hidup semacam ini, sekedar menyebut contoh, misalnya untuk memberi i’tibar terhadap sikap tawadhu’ ada ungkapan ilmu padi, makin barisi makin marunduak.
Seiring dengan berkembangnya Islam, Surau menjadi aset yang dapat dipergunakan untuk menyebarkan dan mengenalkan konsep-konsep dasar Islam. Kedatangan Syekh Burhanuddin di penghujung abad ke-17 dengan mendirikan Surau di daerah Ulakan Pariaman menjadi titik awal dari terbentuknya karakter tradisional Islam hampir di seluruh wilayah penyebaran maupun pengaruhnya. Hal itu disebabkan karena kemampuan Tarekat Syattariyah yang dibawa oleh Burhanuddin sangat mengakomodasi tradisi lokal. Aspek-aspek tasauf yang dikandung dalam ajaran ini—sebagaimana halnya dengan pengalama-pengalaman awal islamisasi di wilayah nusantara—memudahkan diterimanya Islam, karena memiliki kesamaan-kesamaan dengan ajaran Hindu/Budha yang telah terlebih dahulu dipraktekkan. Kedekatan emosional masyarakat Minang dengan Surau menjadi faktor kunci lestarinya pemahaman tradisional di ranah Minang dan buah dari sebuah interaksi antara dua kultur yang saling berdialog. Sudut pandang kelompok modernis terhadap Surau tradisional sesungguhnya melepaskan ikatan-ikatan kultural ini yang telah terjalin demikian lama sehingga memunculkan bentuk-bentuk Islam tradisi yang mapan di wilayah Minangkabau.

Ada narasi sejarah yang terpenggal dari sudut pandang seperti ini, meskipun pada tataran kebutuhan praktis yang bersifat temporal, pembaharuan yang digaungkan Islam modernis patut diapresiasi juga. Pemaksaan atas narasi besar Islam Arabia (ideologisasi Islam seolah-olah hanya tipikal Arab-lah yang benar) di gelanggang persemaian Islam kultural tentu sulit diterima, apapun alasannya. Ada sekian proses-proses penyesuaian dalam narasi kecil Islam nusantara yang tidak harus dinilai sebagai bid’ah, kafir, jumud dan seterusnya. Dengan demikian, Surau dalam kerangka demikian—meminjam sebutan yang digunakan Nurcholish Madjid untuk Pesantren di Jawa—tidak hanya identik dengan makna keislaman, namun juga mengandung keaslian (indigenous) yang berangkat dari kearifan lokal. Dengan kata lain, masyarakat Minangkabau juga memiliki kearifan tersendiri ketika Islam hadir dan mengidentifikasi diri terhadap unsur lokal. Kemampuan Tarekat Syattariyah melakukan pendekatan dengan cara sufistik terhadap membuat islamisasi yang terjadi di wilayah Minangkabau tidak mengancam fondasi dasar masyarakat Minang, bahkan memperkaya elemen-elemen kultural yang ada.
Dari perspektif ini,Taufik Abdullah melihat bahwa pembentukan tradisi—sebagai sesuatu yang dilestarikan dari masa lampau—lebih dari sekedar persoalan legitimasi, namun juga menyangkut persoalan otoritas dan kewenangan. Sesuatu yang disebutnya sebagai paradigma kultural untuk melihat dan memberi makna terhadap kenyataan, yang tumbuh dari proses seleksi, dimana harapan berbenturan dengan kenyataan, dan kebebasan ekspresi harus mencari bentuk terbaik dengan keharusan-keharusan sturktural. Pada saaat itu, tradisi dapat dianggap sebagai seperangkat nilai dan sistem pengetahuan yang mengarahkan sifat dan corak komunitas. Dengan kata lain, menurut Abdullah, tradisi telah memberi kesadaran identitas serta rasa keterkaitan dengan sesuatu yang dianggap lebih awal. Mengikatkan diri kepada sumber atau person-person masa lalu adalah sebuah keharusan bagi tarekat Syattariyah bila ingin memperkenalkan Islam dalam struktur adat yang sudah terbentuk. Bukankah terbentang jarak yang sangat jauh antara wilayah Minangkabau dengan pusat Islam di Timur Tengah? Dan disepakati oleh para ahli sejarah bahwa pengenalan Islam ke wilayah ini bukan dengan wajah kekerasan. Lalu bagaimana Islam mengidentifikasi diri jika tidak dengan melakukan penyesuaian pada taraf tertentu terhadap tradisi yang diyakini secara kolektif oleh masyarakat lokal, sebagaimana ia harus mengidentifikasi diri sebagai bagian otentik dari dunia Islam meskipun terpencil ? Sebagai kelanjutan dari menguatnya posisi agama dalam struktur adat Minangkabau, maka berakibat pula pada menguatnya kedudukan ulama dan guru-guru agama. Di bawah pengelolaan ulama-ulama tradisional, Surau-Surau melanjutkan peran-peran lamanya sebagai pusat pencerdasan masyarakat dengan warna tradisional yang kental.
:: Tulisan lengkap yang merupakan ringkasan dari Disertasi A. Taufik Hidayat diterbitkan dalam Jurnal Tabuah Edisi Januari-Juni 2011 (Redaktur : Muhammad Ilham) 


Sumber : http://ulama-minang.blogspot.com/

Pasa Pabukoan, Pasar Kaget Khusus di Bulan Ramadhan

Posted by Unknown | Minggu, 29 Juli 2012 | Posted in , ,


Kemaren sore saya harus menjejaki kaki di sekitar kawasan pasar raya Padang untuk suatu keperluan. Usai mendapatkan apa yang tadinya saya cari maka saya segera mengayunkan langkah ke arah kantor Balai Kota Padang, seraya menoleh kiri dan kanan tiba-tiba pandangan saya terhenti pada salah satu sudut yang tampak ramai dikunjungi oleh masyarakat. Tempat tersebut berada di depan kantor Balai kota Padang.
Berbekal rasa ingin tahu lebih dalam maka saya memutuskan untuk singgah di tempat tersebut. Ternyata ini adalah PASA PABUKOAN, sebuah pasar kaget yang khusus menyediakan aneka makanan dan minuman untuk berbuka puasa. Pasar kaget ini senantiasa ada setiap tahunnya dalam rangka memeriahkan bulan suci Ramadhan di kota penghasil Bingkuang ini.
Jiwa photography saya tak sabar untuk mengambil beberapa photo untuk mengabadikan momentum ini sehingga dapat share di lingkungan yang lebih luas lagi. "Uni wartawan ya, nanti kami masuk koran dong ni?", ujar salah satu dara manis yang ikut berdagang di sana tatkala menyaksikan saya sibuk memfoto stand-stand yang ada.

Animo masyarakat untuk mengunjungi pasar ini ternyata cukup besar. Lokasi pasar pabukoan yang tidak begitu luas tampak dibanjiri pengunjung. Para pedagang dengan ramahnya senantiasa mempromosikan dagangannya guna menarik perhatian pengunjung sehingga berkenan untuk membeli di stand mereka. Yang menarik bagi saya justru kaum adam yang mendominasi para pengunjung yang hadir sore itu. Para lelaki yang masih mengenakan seragam kantor mereka tampak antusias sekali membeli aneka makanan dan minuman yang ada. Ini bukanlah pemandangan yang biasa di kota kami karena lelaki biasanya berbelanja ditemani oleh istri dan atau anak-anak mereka. Kali ini mereka justru berbelanja sendiri atau ditemani oleh rekan sekerja yang juga bergender pria hehehehe.
Tahun ini pasar pabukoan tidak hanya berada di satu titik seperti yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Selain di jantung kota Padang ini, pasar pabukoan juga dapat kita temui di kawasan tarandam. Dari informasi di media saya mengetahui bahwa pasar pabukoan ini disediakan oleh pemerintah dengan jumlah stand 40 di kawasan Tarandam dan 63 stand di depan kantor Balai Kota Padang. Pemerintah menyediakan tenda dan meja untuk menunjang operasional pasar kaget tersebut. Partisi lainnya dibawa oleh masing-masing pedagang sesuai dengan kebutuhannya.
Sembari mengelilingi stand yang ada di pasar pabukoan tersebut, saya mencoba untuk mewawancarai salah seorang pedagang di sana. Menurut informasi yang saya peroleh dari beliau, para pedagang yang membuka stand di Pasar Pabukoan depan kantor Wali kota Padang tersebut dikenai biayai stand sebesar Rp. 1.000.000,- untuk satu bulan per standnya. Lain halnya dengan pedagang yang membuka stand pabukoan di kawasan Tarandam, para pedagang justru tidak dikenai biaya stand alias gratis. Ukuran meja yang disediakan untuk masing-masing stand adalah 1 x 1,5 meter.

Es cendol, es buah, es teller, kolak pisang, kolak dalimo, merupakan sederet nama minuman segar dan kolak yang dapat kita temui di pasar pabukoan tersebut.

Para pedagang yang memilih gorengan sebagai menu andalan mereka justru menggoreng langsung aneka gorengandi stand mereka sehingga pengunjung dapat memperoleh gorengan yang masih panas dan baru. Tahu berontak, bakwan, pargedel kentang, pargedel jagung, dan sala lauak serta goreng udang adalah sejumlah varian gorengan yang dapat kita beli di stand-stand pabukoan ini.

Banyaknya varian makanan dan minuman yang dijajakan di pasar ini membuat orang memberikan istilah 'pasar seribu satu pabukoan' sebagai nama lain untuk pasar kaget ini. Ragam makanan yang sangat banyak membuat pengunjung benar-benar serasa berada di sorga makanan. Rendang, kalio daging, gulai tunjang, dendeng batokok, samba lado, anyang, gulai kambiang, gulai kapalo ikan, ayam balado, ayam kecap, mie/bihun goreng, dan pical adalah sebagian kecil nama makanan yang dengan mudah kita peroleh di pasar kaget ini.
Tak hanya sambal dan kolak, berbagai penganan ringan tradisional Minang pun ikut menambah daftar hidangan pabukoan yang dapat kita beli di pasar ini. Beberapa nama  kue-kue tradisional yang diperjualbelikan di sini adalah lapek bugih, onde-onde sipuluik, surabi, dan berbagai kue basah lainnya.


Apakah anda harus mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk berbelanja di pasar ini? Well itu tergantung jumlah makanan dan minuman yang anda beli. Aneka makanan dapat diperoleh dengan harga-harga terjangkau. Menurut penulis harga-harga yang dijadikan bandrol atas dagangan mereka tidaklah mahal. Bahkan dengan uang Rp. 500,- saja anda telah dapat membeli sebuah onde-onde, penganan dari tepung beras pulut yang di dalamnya diisi dengan gula merah, diberi air pandan sehingga warnanya menjadi hijau alami, kemudian di bagian luarnya ditaburi oleh kelapa parut dan gula pasir. Rasanya enak dan lezat. Penganan yang satu ini sangat terkenal bahkan hingga ke negeri sakura sana.
Well, pasar pabukoan yang disediakan oleh pemerintah secara resmi memang hanya terdapat di dua titik di atas, namun hampir di setiap jalan yang ada di kota Padang kita akan menyaksikan berbagai jenis stand-stand makanan dan minuman yang didirikan atas kreatifitas para pedagang sendiri. Jalan jati adabiah, jalan Abdul Muis, Jalan Andalas, Jalan Proklamasi, Jalan Sisingamangaraja, Simpang Haru, Pasar Baru, Pasar Alai, Jalan Patimura, Tabing, adalah sederet lokasi yang banyak dijadikan pilihan oleh para pedagang untuk berdagang aneka makanan dan minuman bahkan buah-buahan di bulan suci ini.
Ramadhan menjadi sebuah momentum bagi generasi muda untuk mengaplikasikan jiwa wirausahanya. Inilah mengapa akan banyak kita temui mahasiswa yang beralih profesi menjadi pedagang makanan dan minuman berbuka selama bulan Ramadhan. Bekerja sama dengan beberapa rekan mahasiswa yang memiliki jiwa wirausaha mereka teguhkan niat untuk berjualan di pinggir jalan. Ini tentunya energi positif yang layak kita berikan apresiasi.

Menyaksikan aneka makanan dan minuman di kala kita sedang berjuang untuk menahan lapar dan dahaga tentunya membuat kita terpancing untuk membeli barang satu atau dua makanan dan minuman yang didisplay dnegan cantik dan menarik di stand-stand tersebut. Usai mengabadikan aneka makanan dan minuman tersebut dalam camera, saya akhirnya memutuskan untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Onde - onde, lapek bugih,  dan surabi akhirnya menjadi menu pilihan saya. Ahhhh, tidak sabar rasanya menunggu bedug berbuka puasa hehehehe.
Anda tertarik?
Mari kunjungi pasa pabukoan di kota Padang. Saya jamin aneka kuliner segera menghadang anda dengan rasanya yang lamak bana [baca : manyusss].
Padang
Arin - Netizen Journalis

http://muda.kompasiana.com/
Latest Posts :

Hotel

Kuliner

Wisata

Artikel Lainnya » » More on this category » Artikel Lainnya » »

Musik

Tari

Ukiran

Artikel Lainnya » » Artikel Lainnya » » Artikel Lainnya » »

Top Post

Coment

Adat

Artikel Lainnya»

Budaya

Artikel Lainnya »

Sejarah

Artikel Lainnya »

Tradisi

Artikel Lainnya »

Di Likee "Yaaa.." Kalau Postingan Di sini Sangat Bermanfaat Dan Membantu bagi Anda ..