Headlines

Kawa Daun Teh Daun Kopi

Posted by AchiyaK Deni | Sabtu, 30 Juli 2016 | Posted in

Teh dari daun tumbuhan kopi memang masih terdengar asing, dan di Indonesia sendiri baru-baru ini mulai populer dengan adanya berita yang mengejutkan yang dilansir oleh Daily Mail dan media internasional lainnya tentang manfaat teh dari daun kopi ini. 
Namun tahukah Anda, teh daun kopi ini ternyata sudah dikenal di Tanah Datar, Sumatra Barat Indonesia sejak ratusan tahun lalu dengan nama ‘Kawa Daun’.
Sejarahnya berawal ketika orang Sumbar tidak boleh minum kopi (buah) oleh Belanda, seluruh hasil panen buah kopi segar dari Ranah Minang, diekspor keluar negeri oleh bangsa penjajah, sehingga warga pribumi tidak mendapat kesempatan untuk mencicipi nikmatnya hasil seduhan buah kopi ini, maka mereka mencari alternatif lain yaitu mengolah daunna jadi minuman. Minum kopi pada zaman itu mempunyai kebanggaan tersendiri. Kebiasaan meminum kopi melambangkan dia orang berkelas pada zaman itu.
Seperti kata pepatah, tak ada rotan akarpun jadi. Tidak ada kopi daunya pun tak apalah, begitu kira-kira. Sehingga keinginan orang untuk menikmati minuman kopi sedikit terobati. Dan akhirnya minuman ini banyak yang mengemari. Gara-gara minum daun kopi, orang Minang malah dikatai sebagai Melayu Kopi Daun oleh para tuan kulit putih itu.
Penyajian Kawa Daun ini sangat unik, menggunakan tempurung kelapa tua yang disebut sebut “sayak”. kemudian disantap bersama gorengannya yang masih panas seperti pisang goreng, bakwan, tahu isi, bika bakar dan lain-lain.
Di Sumatera Barat, sudah umum caffe yang menyediakan Kawa Daun ini seperti di daerah Payakumbuh, Bukittinggi, Batusangkar dan sekitarnya. Harga minuman ini juga terjangkau hanya 3.000-4.000 rupiah untuk 1 cangkir tempurung kawa daun. 
Bila anda mencobanya untuk pertama sekali mungkin akan terasa begitu berbeda dan terasa begitu aneh di lidah anda. Namun bila anda menikmatinya dengan cara perlahan-lahan serta menikmatinya dengan santai dan biarkan aroma juga rasanya  berputar-putar, bermain-main di lidah serta di mulut anda maka anda akan benar-benar mendapatkan citarasanya yang sungguh sangat nikmat dan tak terlupakan.
Khasiat minuman Kawa Daun.
Penelitian terbaru di Inggris menemukan bahwa teh dari daun kopi ini ternyata lebih sehat ketimbang teh dan kopi sendiri. Menurut para ilmuwan dari Royal Botanic Gardens di Kew, London, dan Joint Research Unit for Crop Diversity, Adaptation and Development di Montpellier, teh daun kopi mengandung senyawa yang bermanfaat mengurangi risiko penyakit jantung dan diabetes. 
Berdasarkan penelitian, daun kopi mengandung antioksidan lebih tinggi dibandingkan teh biasa. "Yang mengejutkan adalah berapa banyak antioksidan dalam daun kopi. Jumlahnya jauh lebih tinggi dibandingkan teh hijau dan teh hitam," ujar Dr Aaaron Davies, pakar kopi dan botani dari Royal Botanic Gardens seperti dilansir laman Telegraph.
Tak hanya antioksidan, daun kopi juga mengandung bahan kimia alami yang berkhasiat mengatasi masalah peradangan. Bahan kimia alami ini biasanya ditemukan pada buah mangga.
"Ditemukan juga zat dalam level yang tinggi yang disebut mangiferin dalam daun tanaman kopi Arabika," ucapnya.
Para peneliti menilai, selama ini daun kopi diabaikan karena orang lebih mengedepankan biji kopi yang memiliki nilai lebih tinggi. Meski demikian, mereka yakin bahwa teh daun kopi bisa menjadi minuman sehat baru, setelah teh hitam atau teh hijau.
Teh daun kopi mengandung kafein yang rendah dan memiliki rasa yang biasa, tidak pahit seperti teh atau sekuat kopi. Dr Davies menjelaskan, kopi daun teh sangat populer di beberapa negara, seperti Ethiopia dan Sudan Selatan. Bahkan ada upaya memasarkan teh daun kopi ini di Inggris pada tahun 1800-an.
Cara pembuatan minuman Kawa Daun sebagai berikut:
Proses menjadikan daun kopi menjadi teh juga sangat sederhana, daun kopi yang dipetik (dipilih daun kopi yang tidak terlalu tua tapi juga tidak terlalu muda), dijepit menggunakan sebilah bambu lalu digantung diatas perapian, dibiarkan selama berhari-hari diatas perapian kayu bakar hingga kering. Jika daun-daun tersebut diremas dan berbunyi gemerisik, itu artinya daun sudah jadi.
Daun kopi kering ini pun dimasukkan ke dalam tabung bambu khusus. Ujung bambunya disumpal dengan ijuk sebagai saringan. Kemudian tabung bambu ini disiram air mendidih dan dibiarkan beberapa saat sebelum dituangkan ke sayak tempurung. Teh daun kopi siap dihidangnkan.
Dijamin tidak akan bosan mencoba minuman kawa daun karena ada variasi rasanya. Berikut variasi rasa dan manfaatnya:
KAWA JAHE,  Seduhan kawa daun dengan jahe membuat tubuh hangat melancarkan pernafasan dan mengobati tenggorokan gatal. Cocok diminum saat hujan 
KAWA TELUR, Rasa tradisional teh telur Minangkabau dengan air kawa daun bisa mnambah staminaa joss lagi. Cocok untuk para pekerja keras
KAWA MADU, manfaat madu yang baik dikombinasikan dengan minuman kawa daun menambah vitalitas penikmatnya. 
KAWA SUSU, Untuk sekedar menyegarkan tubuh kawa susu nikmat. 
KAWA STMJ, Perpaduan susu,telur,madu,jahe sangat cocok utuk memanjakan diri anda.
Atau bagi anda yang berada di luar daerah dan tidak punya waktu untuk meracik minuman ini juga bisa memesan Kawa Daun yang sudah dikemas dalam bentuk teh celup secara online di situs 

CERITA HIDUP ADITYAWARMAN

Posted by AchiyaK Deni | | Posted in

Adityawarman adalah pangeran berdarah campuran JawaSumatra yang mendirikan Kerajaan Pagaruyung pada tahun 1339, dengan bergelar Sri Udayadityawarman Pratapaparakrama Rajendra Mauli Warmadewa.

ASAL USUL
Adityawarman adalah putra dari Adwayawarman menurut prasasti Kuburajo, atau Adwayadwaja menurut prasasti Bukit Gombak. Nama ayahnya ini mirip dengan AdwayabrahmaKerajaan Singhasari yang ikut mengantar arca Amoghapasa sebagai hadiah untuk Kerajaan Dharmasraya pada tahun 1286. dalam prasasti Padangroco, yaitu seorang pejabat

Raja Dharmasraya saat itu adalah Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa. Terlihat adanya kemiripan gelar sehingga dapat diduga kalau Adityawarman adalah keturunan dari Tribhuwanaraja.

Adityawarman dalam Pararaton disebut dengan nama Tuan Janaka yang bergelar Mantrolot Warmadewa. Ibunya bernama Dara Jingga putri Kerajaan Dharmasraya. Dara Jingga bersama adiknya yang bernama Dara Petak tiba di Jawa pada tahun 1293 dikawal oleh Kebo Anabrang, seorang perwira Singhasari yang ditugasi Kertanagara untuk melakukan ekspedisi Pamalayu ke Sumatra. Ahli waris Kertanagara yang bernama Raden Wijaya mengambil Dara Petak dan menyerahkan Dara Jingga kepada seorang “dewa”.
Kerajaan Malayu identik dengan Dharmasraya sehingga Dara Jingga dapat disebut sebagai putri Tribhuwanaraja. Suaminya yang disebut “dewa” ditafsirkan sebagai Adwayabrahma, yaitu pejabat tingkat tinggi berpangkat Rakryan Mahamantri dalam pemerintahan Kertanagara. Jadi Adityawarman adalah putra Adwayabrahma seorang pejabat tinggi Singhasari yang lahir dari Dara Jingga putri raja Dharmasraya.
Namun demikian, ada pendapat lain mengatakan bahwa Adityawarman juga merupakan anak dari Raden Wijaya, yang berarti Raden Wijaya bukan hanya memperistri Dara Petak tetapi juga memperistri Dara Jingga. Hal ini mungkin saja terjadi sesuai dengan tradisi raja-raja Jawa waktu itu.
Adityawarman dilahirkan di Majapahit saat pemerintahan Raden Wijaya (1293–1309). Menurut Pararaton, raja kedua Majapahit, yaitu Jayanagara, adalah putra Raden Wijaya yang lahir dari Dara Petak. Dengan demikian, hubungan antara Adityawarman dengan Jayanagara adalah saudara sepupu sesama cucu Srimat Tribhuwanaraja. Dari versi lain, mereka bukan hanya sesama cucu Srimat Tribuwanaraja tetapi juga saudara seayah sesama anak Raden Wijaya.
Muhammad Yamin berpendapat bahwa Adityawarman lahir di Siguntur dekat negeri Sijunjung, Sumatera Barat. Ketika muda dia berangkat pergi ke Majapahit. Ayah bundanya mempunyai perhubungan darah dengan permaisuri raja Majapahit pertama, Kertarajasa. Raja Jayanegara merupakan paman Adityawarman yang tidak memiliki putra. Oleh karena itu, maka menurut adat, Adityawarmanlah putra yang paling dekat untuk pengganti mahkota. Peran di Majapahit

Ketika Jayanagara menjadi raja, Adityawarman diangkat sebagai duta besar Majapahit untuk Cina pada tahun 1325. Dalam catatan Cina ia disebut dengan nama Seng-kia-lie-yulan. Saat itu Cina sedang dikuasai oleh Dinasti Yuan yang pernah mencoba menaklukkan Jawa pada zaman Raden Wijaya. Pengiriman duta ini menunjukkan adanya perdamaian antara Majapahit dengan bangsa Mongol.
Pada pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi (adik Jayanagara), Adityawarman diangkat sebagai Wreddhamantri, atau menteri senior. Namanya tercatat dalam prasasti Blitar tahun 1330 sebagai Sang Arya Dewaraja Mpu Aditya. Demikian pula pada prasasti Manjusri tahun 1343 disebutkan bahwa, Adityawarman menempatkan arca Maٍjuçrī (salah satu sosok bodhisattva) di tempat pendarmaan Jina (Buddha) dan membangun candi Buddha di Bumi Jawa untuk menghormati orang tua dan para kerabatnya. 

IDENTIFIKASI DENGAN ARYA DAMAR

Arya Damar adalah tokoh dalam Kidung Pamacangah dan Babad Arya Tabanan sebagai bupati Palembang yang berjasa membantu Gajah Mada menaklukkan Bali pada tahun 1343. Tokoh Arya Damar ini berasal dari Kediri. Sejarawan Prof. C.C. Berg menganggapnya identik dengan Adityawarman.
Sementara itu catatan Dinasti Ming menyebut di Sumatra terdapat tiga orang raja. Mereka adalah Seng-kia-li-yulan, Ma-ha-na-po-lin-pang, dan Ma-na-cha-wu-li. Ketiganya merupakan sebutan untuk Adityawarman, Maharaja Palembang, dan Maharaja Mauli. Berdasarkan berita Cina tersebut, Adityawarman tidak sama dengan raja Palembang alias Arya Damar.
Jadi, pada zaman Majapahit tersebut, Pulau Sumatra dipecah menjadi tiga bagian, yaitu Pagaruyung dipimpin Adityawarman, Palembang dipimpin Arya Damar, dan Dharmasraya dipimpin Mauli. Mungkin raja Dharmasraya ini adalah keturunan Srimat Tribhuwanaraja. Bisa jadi ia adalah paman atau mungkin sepupu Adityawarman.
PINDAH KE SUMATRA
Pada tahun 1339 Adityawarman dikirim sebagai uparaja atau raja bawahan Majapahit untuk wilayah Pulau Sumatra. Ia mendirikan istana baru bernama Malayapura di Pagaruyung (daerah Minangkabau) karena tidak mempunyai hak atas takhta Kerajaan Dharmasraya.
Selanjutnya, Adityawarman pun menjalankan misi penaklukkan Sumatra bagian utara yang saat itu dikuasai oleh Indrawarman raja Kerajaan Silo. Indrawarman adalah bekas tentara Singhasari yang menolak kedaulatan Majapahit dan memilih mendirikan kerajaan sendiri di daerah Simalungun.
Namun kesetiaan Adityawarman terhadap Majapahit luntur sepeninggal Gajah Mada. Pada tahun 1375 ia mengirim duta ke Cina untuk meminta bantuan dalam usaha memerdekakan diri. Tidak lama setelah itu, Adityawarman meninggal dan digantikan oleh putranya yang bernama Ananggawarman.
Pada tahun 1409 pasukan Majapahit tiba di Sumatra untuk menumpas pemberontakan Pagaruyung. Namun saat itu masa kejayaan Majapahit sudah berakhir di mana pasukannya dapat dipukul mundur di Padang Sibusuk. Dan baru pada serangan kedua tahun 1411 kerajaan Pagaruyung dapat ditaklukkan. Sedangkan daerah-daerah Siak, Kampar dan Indragiri yang melepaskan diri ditaklukkan oleh Kesultanan Malaka dan Kesultanan Aceh, dan kemudian menjadi negara-negara merdeka.

AGAMA

Adityawarman diperkirakan penganut yang taat dari agama sinkretis Buddha Tantrayana dan Hindu Siwa, sebagaimana yang banyak dianut oleh para bangsawan Singhasari dan Majapahit. Ia diperlambangkan dengan arca Bhairawa Amoghapasa. Selama masa pemerintahannya di Pagaruyung, Adityawarman banyak mendirikan biaro (bahasa Minang, artinya vihara) dan candi sebagai tempat pemujaan Dewa Yang Agung. Sampai sekarang, masih dikenal nama tempat Parhyangan yang kemudian berubah tutur menjadi Pariangan, yaitu di Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat.

Sumber : http://jawaralintang.blogspot.co.id

Janjang Koto Gadang atau Janjang Seribu

Posted by AchiyaK Deni | Sabtu, 06 Desember 2014 | Posted in

Masyarakat Minang sekarang bisa berbangga hati karena Bukittinggi dan Agam, Sumatera Barat punya kawasan wisata baru. Bentuknya mirip-mirip dengan tembok China. Tapi yang di Koto Gadang mungkin lebih cantik, pemandangan ngarai Sianok terbentang. Pembangunan Janjang Koto Gadang atau Janjang Seribu yang merupakan ide dan sesepuh minang bapak Azwar Anas. Ide dan gagasan ini terujud dan dilaksanakan oleh Tifatul Sembiring Menteri Kominfo RI bersama kekuatan perantau.

Memasuki kawasan ini, pengunjung akan melalui jalan menurun. Kemudian bertemu dengan panorama Ngarai Sianok, persawahan dengan tebing-tebing nan indah ada jembatan gantung dan anak tangga yang tinggi
Kita akan membuat sejarah dan efek luar biasa dari pembangunan Janjang Koto Gadang. Salah satu efeknya adalah peningkatan ekonomi

masyarakat dan pengembangan wisata. Orang kalau ke Bukittingi pasti kenal dengan Jam Gadang, Ngarai Sianok, Lubang Jepang dan lain-lain. tapi orang belum tahu dengan Janjang Koto Gadang yang banyak kenangan sejarahnya. Hal ini di sampaikan Tifatul Sembiring ketika meresmikan dan penandatanganan prasasti Janjang Koto Gadang, Kabupaten Agam di Mesjid Koto Gadang, Sabtu (26/01).
Ikut hadir dalam kesempatan itu sesepuh minang AzwarAnas, Mutia Hatta, Ketua DPD RI Irman Gusman berserta anggota DPD asal pemilihan Sumatera Barat, Anggota DPR RI Refrizal, beberapa Bupati/Wako Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno, Dirjen Pariwisatá dan Ekonomi Kreatif Edi Waluyo, Wakil Ketua DPRD Sumbar Leonardy Harmainy serta perantau Koto Gadang.
Lebih lanjut, Tifatul mengatakan pembangunan Janjang Koto Gadang ini akan terus kita lakukan ke Singgalang, Koto Tuo dan Balingka sehingga mempunyai Sejarah tersendiri. 


 

Sumber   http://ikbpadang.blogspot.com

Haji Mansur Daud Datuk Palimo Kayo

Posted by AchiyaK Deni | | Posted in ,

Haji Mansur Daud Datuk Palimo Kayo, lahir pada tanggal 10 Maret 1905 di Pahambatan, Balingka, Kecamatan IV Koto (Kabupaten Agam) lahirlah seorang putra yang kemudian diberi nama Mansur, putra dari  Syekh Daud Rasyidi dan Siti Rajab. Sebagai kepala keluarga, Syekh Daud Rasyidi sudah mengarahkan anaknya supaya taat beragama.

Usia tujuh tahun memasuki sekolah Desa di Balingka pada tahun 1912. Pendidikan ini hanya diikuti selama satu tahun. Selanjutnya, beliau pindah ke Lubuk Sikaping dan melanjutkan ke Gouvernment School sampai tahun 1915.

Mansur Daud kemudian mempelajari agama Islam secara khusus di perguruan Sumatera Thawalib pada tahun 1917. Beliau langsung mendapat pendidikan dari ulama besar Haji Abdul Karim Amrullah (HAMKA), sementara tetap mempelajari mata pelajaran agama pada Perguruan Islam Madrasah Diniyah di bawah asuhan Zainuddin Labay El Yunusi. Hampir seluruh waktunya diisi dengan mempelajari pendidikan agama Islam.

Tahun 1924, Mansur Daud mendalami agama di perguruan Islam yang diasuh oleh Ibrahim Musa Parabek. Suasana politik yang tak menentu, yakni menyebarnya pengaruh komunis ke dalam perguruan Sumatera Thawalib, membuat Mansur Daud memutuskan untuk menghindari.




Tahun 1925, Mansur Daud berangkat ke mancanegara, menuju India. Langkah ini ditempuhnya guna menghindari pengaruh komunis kala itu. Di Negeri itu Mansur Daud kembali pada dunia yang dihadapinya selama ini. Beliau belajar agama di Perguruan Islam Tinggi (Jamiah Islamiyah), Locknow, India. Abdul Kalam Azad sebagai Pemimpin  perguruan tersebut langsung jadi pengasuh sekaligus pengajarnya.
Selama lebih kurang 5 (lima) tahun, H. Mansur Daud mengembara, menuntut ilmu di India. Pengembaraannya buat sementara ke mancanegara usai. Beliau pulang dan sempat singgah di Malaysia. Beliau langsung ke pulau Jawa.

Pada tahun 1930 Mansur Daud kembali ke Indonesia dari India. Aktivitas organisasi dimulainya kembali dan diwujudkan dalam suatu kongres di Sumatera Thawalib, Bukittinggi. Ketika berlangsung Kongres I Sumatra Thawalib (22-27 Mei 1930) yang mengubah nama organisasi tersebut menjadi Persatuan Muslimin Indonesia (PMI), Mansur Daud ditunjuk sebagai salah seorang anggota Pengurus Besar PMI. Pada Kongres I PMI di Payakumbuh (5-9 Agustus 1930), ia terpilih sebagai sekretaris jenderal PMI. Pada Kongres II PMI di Padang (9-10 Maret 1931), yang memutuskan mengubah organisasi sosial ini men­jadi partai politik yang dikenal dengan nama Per­satuan Muslimin Indonesia (Permi), ia pun ditun­juk sebagai sekretaris jenderal partai ini. Permi, yang berada di bawah pimpinan tokoh-tokoh Su­matra Thawalib dan para bekas mahasiswa dari Cairo (seperti Mochtar Luthfi dan Iljas Jacoub) ini, memperkenalkan ideologi “Islam dan kebangsaan”.
H. Mansur Daud ikut  berperan dalam membentuk partai politik Indonesia yaitu Persatuan Muslim Indonesia (PERMI). Pada tanggal 2 Desember 1932 Mansur Daud ditunjuk Permi sebagai ketua pelaksana Algemene Actie Protes Vergadering Permi, semacam tim perumus yang akan menyusun rancangan protes ter-hadap kebijaksanaan Belanda yang melakukan ordonansi sekolah partikelir, yang lebih dikenal dengan nama ordonansi “sekolah liar”.

Pada tanggal 10 Desember 1934, Mansur Daud ditangkap ketika mengkampanyekan rencana pro­tes yang telah disusun di Curup, Bengkulu, menyusul penangkapan pemimpin utama Permi, yakni H Jalaluddin Taib, H Iljas Jacoub, dan H Mochtar Luthfi. Ketiga tokoh ini kemudian dibuang ke Boven Digul. Datuk Palimo Kayo dipenjarakan di Bukittinggi. Tidak berapa lama kemu­dian ia dipindahkan ke penjara Suka Mulia di Medan. Ia baru dibebaskan dari penjara pada tahun 1935. Kemudian ia kembali ke Bukittinggi. Da­ri situ ia kemudian pergi ke Bengkulu, melakukan kegiatan dakwah pencarian dana pendidikan agama Islam untuk Sumatra bagian Selatan.

Periode penjajahan Jepang memperlihatkan kemajuan aktivitas H. Mansur Daud.  Pada tahun 1942 ia kembali aktif dalam kegiatan organisasi. Salah satu upayanya adalah membentuk badan koordinasi alim ulama Minangkabau.

Karir politik HMD Datuk Palimo Kayo di tataran negara mulai tampak. Pada tanggal 20 September 1956 ia ditunjuk oleh pemerintah menjadi duta besar RI untuk Kerajaan Irak sampai tahun 1960. Selesai tugasnya menjadi dubes RI di Irak, ia kembali aktif di Masyumi dengan menduduki ja­batan ketua umum Masyumi wilayah Jakarta Raya sampai partai politik Islam Masyumi dibubarkan oleh Presiden Soekarno.

Antara tahun 1961-1967 HMD Datuk Palimo Kayo aktif berdakwah dan menekankan peningkatan kemakmuran umat. Upaya yang dilakukan melalui wadah sosial serupa itu kemudian semakin melengkapi pengabdian HMD Datuk Palimo Kayo dalam memperhatikan kesejahteraan rakyat.

Dalam musyawarah alim ulama se-Sumatra Barat tanggal 16-27 Mei 1968 di Bukittinggi, Datuk Palimo Kayo terpilih sebagai ketua umum Majelis Ulama Sumatra Barat. Ketika itu belum ada MUI atau Majlis Ulama Indonesia.

Riwayat hidup HMD Datuk Palimo Kayo yang begitu sarat dengan segala bentuk aktivitas memang layak mendapat perhatian secara ilmiah. Kelangkaan akan keberadaan ulama sekaliber HMD Datuk Palimo Kayo kiranya jadi titik tolak untuk mengenang tokoh ulama ini.

Sejumlah kalangan yang dekat, baik dari keluarga maupun sesama ulama sangat menghargai keberadaannya.
Kalangan akademik kemudian menjadikan sosoknya sebagai sumber tulisan ilmiah sekaligus mencermati kiprahnya sepanjang hayatnya.

Hingga akhir hayatnya, Buya HMD Datuk Palimo Kayo senantiasa teguh dalam sikap telitinya, meskipun terhadap hal sekecil sekalipun.

Dengan berbagai kegiatannya itu, khususnya sumbangannya kepada bangsa dan negara sebelum dan sesudah merdeka, pemerintah Indonesia memberikan penghargaan kepada Mansur Daud Datuk Palimo Kayo sebagai salah seorang Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia melalui Surat Keputusan Menteri Sosial No. Pol. 16/II/PK tang-gal 20 Mei 1960, yang kemudian dikuatkan lagi dengan Surat Keputusan Menteri Sosial No. Pol. 103/63/PK tanggal 13 Juni 1963.

Setelah mengalami sakit beberapa hari, ia meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Dr. M. Jamil, Padang, dan dimakamkan di Pemakaman Tunggul Hitam Padang. Tokoh ulama besar ini telah meninggalkan kita buat selama-lamanya pada tahun 1988.


Sumber  :   http://ikbpadang.blogspot.com

Syekh Haji Daud Rasyidi

Posted by AchiyaK Deni | | Posted in ,

Syekh Haji Daud Rasyidi dilahirkan di Balingka Kabupaten Agam Sumatera Barat tahun 1880 M. beliau merupakan seorang Ulama pembaharu Minangkabau, beliau juga dikenal sebagai seorang ulama yang merintis beberapa institusi pendidikan dan beberapa organisasi soasial-agama-kemasyarakatan diantaranya seperti VSB dan PMDN serta juga dikenal sebagai seorang ulama-pendidik.


Beliau juga seorang pejuang yang melawan penjajahan Belanda. Pada tahun 1946, sewaktu wakil Presiden Republik Indonesia beradada di Bukittinggi dalam rangka membentuk panitia ”Pengumpulan Mas” yang bertujuan untuk membeli sebuah pesawat terbang sebagai sarana perang tentara rakyat. Daud Rasyidi pernah menyusup ditengah-tengah ”hujan peluru” pada front pertempuran di Pasar Usang dan Indarung untuk mengantarkan perbekalan dan pakaian bagi pejuang-pejuang bangsa yang sedang bertempur. 

Sebelumnya, Daud Rasyidi bersama-sama dengan Syekh Ibrahim Musa Parabek telah turun pula berjalan kaki mengelilingi daerah-daerah Minangkabau. Tujuan Daud Rasyidi ”turba” dengan Inyiak Parabek ini dalam rangka mencari dana berupa bantuan dari ummat Islam, yang hasilnya ternyata cukup banyak dan kemudian diserahkan kepada pemerintah Republik Indonesia.


Beliau juga seorang ulama idealis yang tidak bisa ”dibeli” oleh pihak penjajah – baik ketika zaman Belanda maupun Jepang. Daud Rasyidi beruntung hidup di tiga alam yaitu zaman penjajahan Belanda, Jepang dan Pasca Kemerdekaan. Dalam setiap masa tersebut, kontribusi Daud Rasyidi sangat signifikan. Idealisme dan konsistensi sikap Daud Rasyidi terlihat dengan jelas pada tiga zaman tersebut. Beliau selalu memegang prinsip yang diyakininya benar, walaupun ”suasana zaman” berubah. Beliau akan terus tercatat dalam tinta emas sejarah intelektual dan perjuangan masyarakat Sumatera Barat. Hari itu, Senin tanggal 26 Januari 1948, di waktu sholat maghrib di Surau Inyiak Djambek, Daud Rasyidi bertindak sebagai imam sholat. 

Tepat pada tahyat pertama setelah membaca tasahut awwal ketika ketiak akan berdiri, kaki Daud Rasyidi tidak kuat lagi menopang tubuhnya. Beliau-pun rubuh. Salah seorang jamaah yang sengaja menghentikan atau memutuskan sholat-nya, menyambut tubuh Daud Rasyidi. Beberapa saat kemudian, putra Balingka ini menghadap sang khalik. Tanggal 27 Januari 1948, bertepatan dengan 15 Rabiul Awwal 1368 H., jenazah Daud Rasyidi dikebumikan disamping makam sahabatnya, Syekh Muhammad Djamil Djambek di Bukittinggi
 
Sumber  :   http://ikbpadang.blogspot.com/
Latest Posts :

Hotel

Kuliner

Wisata

Artikel Lainnya » » More on this category » Artikel Lainnya » »

Musik

Tari

Ukiran

Artikel Lainnya » » Artikel Lainnya » » Artikel Lainnya » »

Top Post

Coment

Adat

Artikel Lainnya»

Budaya

Artikel Lainnya »

Sejarah

Artikel Lainnya »

Tradisi

Artikel Lainnya »

Di Likee "Yaaa.." Kalau Postingan Di sini Sangat Bermanfaat Dan Membantu bagi Anda ..