Headlines
Published On:Selasa, 11 September 2012
Posted by AchiyaK Deni

Sjech Adimin ar Radji Taram

Sjech Adimin ar Radji Taram (1901-1970 ): Pewaris ulama-ulama Taram

Ditulis oleh: al-Haqir Apria Putra
Berdasarkan kunjungan ke Taram, Februari 2009. Berikut keterangan dari Buya Syafruddin Adimin.

Foto: Sjech Adimin ar-Radji Taram
(Sumber: Koleksi Ponpes Sjech Adimin ar-Radji Taram, 2009)

Tersebutlah nagari Taram, sebuah daerah yang sekarang cukup subur dan terlihat makmur, dengan aliran-aliran sungai yang jernih dan suasana alamnya yang cukup menawan. Jika berbicara mengenai nagari Taram, niscaya orang-orang tua di Luak nan Bungsu akan segera ingat tentang sosok ulama Tua yang masyhur dengan sebutan “Beliau Keramat Taram”, terkenal kekeramatannya dari mulut ke mulut hingga saat ini. Namun jauh setelah ulama keramat itu hadir untuk menyebarkan Islam dan mentrasmisikan keilmuan yang dimilikinya di Luak nan Bungsu di abad-abad silam, lahir pulalah setelah itu ulama yang berdedikasi luas, menyambung perjuangan ulama masa lalu di Luak nan Bungsu, tepatnya di abad ke-20. Ulama itu tak lain ialah Syekh Adimin ar-Radji, masyhur pula surau dan madrasah yang beliau pimpin.

Adimin ar-Radji itu nama sejati Beliau, dilahirkan dipenghujung abad ke-20, tepatnya pada tahun 1901. bagaimana masa kecil dan mula pendidikan beliau luput dari catatan-catatan yang ada. Beberapa keturunan beliau dikemudian hari tidak mengetahui secara pasti mengenai riwayat pendidikan Syekh Adimin di masa belianya, namun dapat diperkirakan bahwa beliau belajar ala surau di masa kecilnya. Setelah menjalani pendidikan agama tingkat dasar di surau-surau Taram, Syekh Adimin kemudian melanjutkan pendidikannya ke Candung, tepatnya untuk menyauk ilmu kepada Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung, ulama besar Minangkabau yang dikenal dengan gelar “Inyiak Canduang” itu. Tercatat bahwa Syekh Adimin merupakan salah seorang murid Syekh Canduang periode awal, sekembalinya Syekh Sulaiman menuntut ilmu di Mekah. Setelah merasa cukup mengaji di Candung kemudian Syekh Adimin melanjutkan pelajarannya ke Tabek Gadang, menemui seorang ulama yang tersohor pula kealiman di Minangkabau, yaitu Syekh Abdul Wahid as-Shalihi yang dikenal dengan panggilan “Beliau Tabek Gadang”. Setelah menamatkan kaji dan memperoleh ijazah dari ulama-ulama besar tersebut, Syekh Adimin kemudian pulang ke kampung halamannya, berkhitmat dan mengabdi buat tanah halaman sendiri.

Setiba di Taram syekh Adimin kemudian membuka pengajian tradisional, menurut sistem surau. Dengan cepat ketenaran beliau selaku orang alim tersebar seantero Luak nan Bungsu hingga Malaya. Maka mulailah berdatangan orang-orang siak untuk menjalang malin di Taram, mendaras kaji dan menthala’ah kitab kuning. Semakin lama, semakin bertambah pula murid-murid yang datang untuk menimba ilmu, sehingga menumbuhkan niat Syekh Adimin untuk memperluas surau dan asrama-asrama tempat orang siak bermukim. Selain itu, keluarlah kebijakan dari PERTI untuk mendirikan madrasah-madrasah, yang memakai kelas dan bangku, sebagai ganti dari surau-surau dan halaqah-halaqah pengajian. Maka dengan segera Syekh Adimin mengubah suraunya menjadi madrasah yang berkelas, memakai bangku dan meja, untuk kelanjutan surau yang telah sesak dipenuhi oleh penuntut-penuntut ilmu itu. Setelah itu, para orang siak-pun semakin mengalir berdatangan.

Selain mengaji ilmu-ilmu agama lewat kitab kuning yang telah digandrunginya sejak masih muda, Syekh Adimin secara khusus juga mengambil bai’at, bersuluk dan mendalami Tarekat Naqsyabandiyah, sebagai kearifan bertasawwuf ulama-ulama Minangkabau sejak dahulu. Syekh Adimin secara istimewa belajar Tarekat Naqsyabandiyah ke daerah rantau Luak nan Bungsu, yaitu Kampar, yang sekarang masuk provinsi Riau. Dulunya daerah Kampar, bahkan juga disebut sampai Siak, adalah termasuk wilayah Minangkabau, rantau dari Luak Limapuluh Kota. Posisinya sama dengan Pesisir Selatan bagi Luak nan Tigo, namun sekarang tidak lagi, tapi secara adat dan budaya, daerah ini tetap beradat Perpatih dan Katumanggungan. Di daerah inilah Syekh Adimin ar-Radji mendalami Tarekat Naqsyabandiyah beberapa lama. Di daerah Kampar, tersebutlah dua ulama Besar Tarekat Naqsyabandiyah yang menepati posisi signifikan dalam penyebaran dan jaringan ulama Minangkabau hingga Malaya, mereka ialah Tuan Syekh Abdul Ghani XIII Koto - Batu Basurek (wafat 1961) dan Syekh Haji Ja’far Pulau Gadang – Kampar. Besar kemungkinan Syekh Adimin belajar secara langsung kepada Tuan Syekh Abdul Ghani Batu Basurek – Kampar, seorang ulama besar Tarekat Naqsyabandiyah yang dikenal luas di Minangkabau, apatah lagi beliau salah seorang ulama dalam usia yang sepuh (wafat dalam usia 150 tahun) yang ikut andil dalam mendukung berdirinya Perti, organisasi ulama-ulama besar termasuk Luak nan Bungsu.

Tidak diperoleh gambaran mengenai aktifitas Tarekat Naqsyabandiyah Syekh Adimin setelah kembali ke kampung halamannya, Taram. Hanya diketahui bahwa beliau setelah itu menjadi pembina guru-guru tarekat yang tidak mengerti ilmu kitab, sebuah sinyalmen bahwa Syekh Adimin cukup memiliki andil besar dalam mengembangkan Tarekat Naqsyabandiyah yang telah beliau pelajari. Ada sebuah kisah yang menunjukkan keberhasilan beliau dalam bidang Tarekat di mata gurunya di Kampar. Ketika gurunya akan memutuskan seseorang, apakah dia telah mumpuni dalam Suluk atau tidak, maka ditunggulah terlebih dahulu Syekh Adimin untuk memberi kata pemutusnya. Dengan demikian, bagi murid-murid Syekh Adimin dikemudian hari meyakini bahwa Syekh Adimin adalah seorang ulama Tarekat Naqsyabandiyah yang telah mumpuni, menepati posisi istimewa dikalangan khalifah-khalifah gurunya, Syekh Kampar tersebut.

Begitulah perjuangan Syekh Adimin dalam mendidik murid-murid dan mengembangkan serta membentengi Tarikat Naqsyabandiyah. Selain itu, Syekh Adimin juga pernah menduduki jabatan sigfikan pada Departemen Agama (Depag) Limapuluh Kota, yang waktu itu berkantor di jalan Arisun Payakumbuh. Dengan demikian pribadi Syekh Adimin memang diakui kealiman dan dedikasinya dibidang agama, apakah dalam pengajian kitab atau bidang Tarikat yang memang menjadi pegangan sejak dahulu kala.

Kemasyhuran lembaga pendidikan yang beliau pimpinan, dan ketokohan beliau selaku ulama dan syekh Tarikat telah membuat Taram menjadi tempat tujuan para penuntut ilmu yang hadir dari berbagai daerah, tak hanya dari penjuru-penjuru Minangkabau, bahkan ada pula dari semenanjung tanah Melayu diseberang lautan. Tercatat pula diantara orang siak yang pernah didik Syekh Adimin pernah ada yang menjadi orang-orang ternama dikemudian hari. Salah satunya ialah perdana menteri Malaysia pertama Tengku Abdurrahman yang menduduki jabatan tersebut dari tahun 1957-1970. Beliau ini pernah mengaji secara langsung kepada Syekh Adimin ar-Radji di Taram. Ada sebuah kisah romantik Tengku Abdurrahman ini sewaktu masih menjadi orang siak di Taram, maklum pula ketika itu beliau masih muda belia, beliaupun menaruh hati kepada salah seorang gadis Taram, tak lama rupanya gayung bersambut, keduanya sama-sama penaruh perasaan. Ketika Tengku Abdurrahman selesai menamatkan kaji di Taram dan berniat kembali ke Malaysia, beliau berjanji kepada sang gadis untuk menikahinya dikemudian hari, sekembali dari kampung halamannya dia akan menjemput sang pelita hati, janji yang benar berdasarkan cinta. Namun apakan daya, setelah kembali ke Malaysia, Tengku Abdurrahman telah pula menjadi orang besar di negerinya, menjemput yang dijanjikan tidak juga dipenuhi. Tinggallah sang gadis Taram sendiri, hingga kini (beliau masih hidup) gadis Taram itu tidak pernah menikah, tetap setia menunggu Tengku perdana menteri, walau usianya sudah tua renta, sedang Tengku sendiri telah tiada. Begitulah kesetiaan cinta beliau. Hingga kini masih tetap menjadi buah bibir masyarakat Taram.

Selain itu, murid-murid Syekh Adimin yang lainnya ialah Syekh Sa’in bin Yusuf Dt. Kondo nan Bajolai, seorang ulama yang menjadi penerus ulama-ulama Luak nan Bungsu hingga akhir abad ke-20. Selanjutnya ialah Drs. H. Syamsir Roust, murid Syekh Adimin periode terakhir, beliau sekarang masih menjadi dosen sastra Arab IAIN Imam Bonjol Padang, sudah tua pula. Dan banyak lagi murid-murid lain, yang tetap meneruskan perjuangan Syekh Adimin ar-Radji dimasa-masa selanjutnya.

Foto: Makam Sjech Adimin ar-Radji

Syekh Adimin wafat pada tahun 1970, dalam usia 69 tahun. Jasa beliau dalam bidang pendidikan, Tasawwuf dan Tarikat Naqsyabandiyah tetap terpatri bagi murid-muridnya dikemudian hari. Untuk selanjutnya posisi beliau memimpin Madrasah dipegang oleh anaknya Buya Sa’id Adimin. Sampai saat ini, dimasa Buya Syafruddin Adimin, Madrasah ini tetap berdiri dan tampak mengikuti kehendak zaman sehingga namanya pun diubah menjadi "Ponpes Sjech Adimin".



Sumber   :     http://surautuo.blogspot.com

Klik Bintang Untuk Voting Anda
Rating: 4.5
Description: Sjech Adimin ar Radji Taram
Reviewer: AchiyaK Deni
ItemReviewed: Sjech Adimin ar Radji Taram


About the Author

Posted by AchiyaK Deni on Selasa, September 11, 2012. Filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

By AchiyaK Deni on Selasa, September 11, 2012. Filed under . Follow any responses to the RSS 2.0. Leave a response

0 comments for "Sjech Adimin ar Radji Taram"

Poskan Komentar
Latest Posts :

Hotel

Kuliner

Wisata

Artikel Lainnya » » More on this category » Artikel Lainnya » »

Musik

Tari

Ukiran

Artikel Lainnya » » Artikel Lainnya » » Artikel Lainnya » »

Top Post

Coment

Adat

Artikel Lainnya»

Budaya

Artikel Lainnya »

Sejarah

Artikel Lainnya »

Tradisi

Artikel Lainnya »

Di Likee "Yaaa.." Kalau Postingan Di sini Sangat Bermanfaat Dan Membantu bagi Anda ..

VISITORNEW POST
PageRank Checker pingoat_13.gif pagerank searchengine optimization Search Engine Genie Promotion Widget ip free counter