“Si Kanon, bocah kecil pengembala kerbau upahan! Begitulah orang-orang Sintuak, Lubuakaluang, Kabupaten Padangpariaman memanggil anak pasangan Puteri Cukup Bilang Pandai dan Pampak Sati Karimun Merah itu. Dia dikabarkan berbadan ceking, dan selalu membawa buku kemana saja. Tapi, siapa sangka, si Kanon kecil, akhirnya melegenda. Namanya ditulis dalam buku-buku sejarah kuno, dielu-elukan sebagai pembawa ajaran islam ke Minangkabau. Si Kanon kecil itu bergelar Syekh Burhanuddin. Orang pintar, nan sepanjang hanyatnya tak beristri.
BENNY OKVA — PARIAMAN
Tak ada yang menyangka, Kanon, yang merantau ke Sintuak, punya kecerdasan luar biasa. Dia datang ke Sintuak saat berumur 10 tahun. Tujuannya, mencari guru untuk mendalami ilmu agama. Waktu itu, Kanon belum memeluk islam. Kanon berasal dari Guguk Sikaladi, Kecamatan Pariangan, Kabupaten. Di usia tujuh tahun, Kanon sudah merantau, dan belajar pada Gujarat bernama Illapai, selama tiga tahun. Saat berumur 10 tahun, dia nyeberang ke Sintuak. Dan menetap di daerah yang jaraknya sekitar 30 kilometer dari Kota Padang itu. Selain jadi pengembala, Kanon belajar pada Tuanku Madinah nan bergelar Syeikh Abdullah Arief dan berdiam di Air Sirah, Nagari Tapakis, tempat Syekh Abdul Arif bermukim dan mengajar.
Syekh Madinah terkenal gigih mengajarkan agama. Berkat ajakan kawannya, Idris Majolelo akhirnya Kanon dikenalkan dengan Tuanku Madinah. Dia langsung mengucapkan dua kalimat tauhid. Oleh Tuanku Madinah, nama Kanon ditukar menjadi Pono. Dia tercatat sebagai murid terpandai Tuanku Madinah. Tapi, kebersamaan keduanya tak bertahan lama. Tuanku Madinah meninggal dunia! Dia wafat, tanpa sakit terlebih dahulu! Waktu itu, Pono masih berusia 14 tahun. Harapannya pupus. Kepergian sang guru, mengukir luka dalam. Pono kembali ke Sintuk yang waktu itu bak “nagari jahiliyah”! Kemungkaran terjadi dimana-mana.
Si Pono remaja, terpanggil untuk berdakwah. Perlahan, dakwah Pono diterima, tak sedikit yang jadi pengikutnya. Tapi, hal itu ditentang oleh Niniak mamak dan penghulu di Sintuk. Mereka merasa dikangkangi Pono kecil. “Banyak yang bengis. Pono dikejar-kejar. Malah, ternak ayahnya diracun orang. Tapi, Pono tak jera, apalagi takut. Dia terus berdakwah. Pono diusir. Bukannya pergi, Pono malah menruskan dakwahnya. Kebencian menjadi, para penghulu sudah gelap mata, mereka ingin membunuh Pono. Dengan berat hati, akhirnya dia menghentikan segala kegiatan dakwah.
“Dari cerita yang saya dengar, Pono menangis karena tak bisa 100 persen menerapkan islam di Sintuk,” terang Buyuang Elok (50), warga Tapakis, yang banyak tahu sejarah Pono.
Pono terkatung-katung. Dia diejek, direndahkan, bahkan difitnah. Putus asa di Sintuk, akhirnya Pono bertekad untuk pergi ke Singkil, Aceh. Dia ingin memperdalam ilmu kepada Abdur Rauf al Singkli. Setelah mendapat restu dari orangtuanya, Pono berangkat selepas tengah malam. Dia takut, mata-mata kaum adat mengetahui dan membunuhnya. Pono berangkat dengan menggunakan kapal laut. Di atas kapal, Pono bertemu dengan Datuk Maruhum dari Padang Ganting, Tarapang dari Kubuang Tigo Baleh, Buyung Mudo dari Bayang Tarusan, dan Muhammad Nasir dari Koto Tangah. Mereka sama-sama ingin berguru kepada Abdur Rauf. Kelimanya, akhirnya sampai di Aceh, dan diterima sebagai murid oleh Abdur Rauf.
**PUKUL ALAT KELAMIN**
Setahun jadi murid Abdur Rauf, Pono semakin pandai, dan menguasai ilmu agama. Abdur Rauf pun akhirnya memberikan ujian terakhir pada Pono. Bukan ujian tak makan, atau tak minum, tapi ujian mengalahkan hawa nafsu. Abdur Rauf mempunyai seorang putri nan jelita. Untuk menguji keimanan Pono, dia meninggalkan putrinya di rumah, hanya berdua dengan putera Tanahdatar tersebut.
Pono waktu itu, baru berusia 18 tahun. Usia dimana, libido sedang tinggi-tingginya. Lelaki mana nan tak tergoda, hanya tinggal berdua dengan seorang gadis cantik, yang pada hakekatnya tak punya hubungan darah? Pono pun demikian, epanjang malam dia berusaha menahan nafsunya untuk menggauli anak sang guru. Masuk hari ketiga, Pono muda tak tahan. Nafsunya sudah diubun-ubun! Tapi, dia tak mau menanggung malu, dia tak mau menggauli anak gurunya.
Geram dengan nafsu nan tak jua reda, pono mengambil palu. Di pergi ke dalam kamar. Seketika, terdengar suara teriakan yang tertahan dari kamar Pono! Orang-orang yang mendengar, langsung berhamburan, termasuk Abdur Rauf yang baru pulang. Di dalam kamar, Pono terkapar pingsan. Darah mengalir dari selangkangannya. Pono ternyata memukul kemaluannya, dengan palu. Langkah itu dilakukannya, karena dia tak mau menzinai perempuan. Tono yang pingsan, dibawa Abdur Rauf ke dalam surau.
Dia sakit berhari-hari. Luka di selangkangannya semakin parah. Hampir sebulan menderita sakit, akhirnya Pono sembuh. Abdur Rauf yang kagum dengan sifat Pono, akhirnya “pasrah”. Dia akhirnya mengucapkan, kalau kaji Pono telah sempurna. Pono pun dinobatkan sebagai Syekh, dengan gelar Syekh Burhanuddin. Tapi, akibat perbuatannya, yang memukul alat kelamin sendiri, Syekh Burhanuddin dikabarkan, tak lagi bisa punya anak. “Sebab itu lah beliau tak beristri sepanjang hayat,” jelas Bustami Tuanku Majo Lelo, yang saat in mengabdikan hidup untuk mengurus Masjid dan Pesantren Luhur Syekh Burhanuddin.
Setelah dirasa sudah cukup ilmu, Syekh Abdur Rauf, akhirnya melepas Syekh Burhanuddin kembali ke Minangkabau. Syekh muda menetap di Ulakan, dan menjadikan Ulakan sebagai pusat pendidikan dan penyiaran Islam. Sebelumnya, Syehkh Burhanuddin telah meminta izin pada Raja Pagaruyung. Kebetulan pula, Datuk Maruhum Basa, yang sesama murid Syekh Abdur Rauf, jadi Tuan Kadhi di Padang Ganting. Syekh Burhanuddin menemui Raja Ulakan yang bergelar Mangkuto Alam, kemenakan Datuk Maninjun Nan Sabatang dan Ami Said, cucu Kacang Hitam dengan maksud menyampaikan niatnya memperluas ruang lingkup kegiatan dakwah.
“Kepandaian berbicaranya yang luar biasa, akhirnya meluluhkan hati Mangkuto Alam. Dia pun diminta menghadap Raja Pagaruyuang. Bersama kawannya, Idris Majo Lelo, Syekh Burhanuddin pergi ke Tanahdatar. Orang pertama yang ditemuinya adalah Datuk Bandaharo di Sungai Tarab. Tapi, tak semudah itu, Datuak Bandaro, akhirnya menyidangkan permintaan urang Ulakan itu bersama petinggi Nagari Sungai Tarab di Bukit Marapalam.
Hasilnya, Syekh Burhanuddin diperbolehkan menyebarkan islam dengan bebas. Di Bukit Marapalam-lah tercetus filsofi minang “adat basandi syarak. Dia pun membuka sekolah agama di Tanjung Medan, Padangpariaman. Surau Tanjung Medan penuh sesak dengan murid-murid beliau. Untuk menampung para muridnya, Syek Burhanuddinmembangun surau-surau disekeliling surau asal. “Ada 101 buah surau baru di Tanjung Medan. Murid yang datang, tak hanya dari Ualakan, tapi dari malaysia, Tailand, dan pelosok nusantara. Ulakan menjadi pusat pendidikan dan penyebaran agama islam di Minangkabau, kalau itu.
Ajaran yang dikembangkan Syekh Burhanuddin sebagai penganut mazhab Sjafii adalah tharikat Syattariyah, yang dinamakan juga tharikat Ulakan atau “martabat yang tujuh”. Martabat yang tujuh adalah mengenai ketujuh tahap pancaran dari “ada yang mutlak”, bersumber dari ajaran al Halaj, Ibnu Arabi,” kata Buyuang Elok.
Meninggalnya Syekh Burhanuddin Setelah berhasil menyebar luaskan agama islam, Syekh Burhanuddin tergus bergiat. Namun, karena fisiknya yang semakin melemah, Syekh Burhanuddin wafat. Pada batu nisan Syekh Burhanuddin tercantum hari wafatnya pada tanggal 10 Syafar 1116 H bertepatan dengan hari Rabu atau 1704 H.
Ia meninggal saat usia muda, yakninya 45 tahun dan dimakamkan di Ulakan. Di kiri kanan makam Syekh Burhanuddin terdapat makam penggantinya yang disebut khalipah bernama Abdur Rahman dan khatib pertama nagari Ulakan, Idris Majolelo. Ketiga makam ini terletak di bawah bangunan empat persegi 2,5 x 2,5 m. Bangunan ini seolah-oleh sebuah masjid kecil yang mempunyai sebuah kubah berdinding teralis besi.
Pada loteng tergantung tirai-tirai, hadiah dari para peziarah Setiap datang rombongan baru tirai itupun diganti. Pengganti-pengganti Syekh Burhanuddin adalah Tuanku-tuanku yang menjadi khalipah, mulai dari Abdur Rahman, Mukhsin. Di halaman bangunan berkubah terdapat beberapa makam para pengikutnya, khalipah-khalipah atau pewarisnya. Kebanyakan telah rata dengan tanah. Sebagai pertanda bahwa semuanya itu makam ialah adanya batu nisan terbuat dari batu alam berbentuk persegi panjang.
Di bagian muka makam terdapat sepuluh lokan besar 20 x 30 m tersusun di sebelah kiri kanan jalan yang menghubungkan makam dengan bangunan 100 x 80 cm. Lokan-lokan ini dianggap para pengikutnya mempunyai berkah yang dapat menyembuhan berbagai penyakit. Dekat makam terdapat pula sebuah bangunan yang berguna celengan bagi orang yang berwakaf.
Untuk menghormati Syekh Burhanuddin, setiap tahunnya, jamaah Syattariah melaksanakan kegiatan Basafa, yang dilaksanakan setiap tanggal 10 Safar (hari wafatnya Syekh Burhanuddin). Pengikut Syattariah di penjuru dunia akan datang ke Ulakan dan Tanjung Medan, setiap tahunnya. Hal ini menandakan, walau Syekh Burhanuddin sudah tiada, tapi jasanya selalu dikenang. Tanpanya, mungkin seluruh masyarakat Minangkabau saat ini, belum memeluk islam sepenuhnya.

Saraval Anam
Tradisi nan Tak Ada Duanya


Suara ‘hiruk’ menggema dari dalam Masjid Luhur Syekh Burhanuddin, Jumat (28/10) dini hari (pukul 00.30 WIB). Bunyinya tingkah-meningkah dengan jangkrik. Bulan telah condong ke barat, tapi, suara yang didengungkan 100 orang siak terus menggema. Semakin keras, dan membuat bulu kuduk berdiri. Walau terdengar samar, tapi, perkataan yang keluar, dari mulut orang siak, bukan sembarang kata. Tapi, lafaz suci, yang disadur dari buku saraval anam. Para pelantun pun bukan sembarang orang. Ada makna suci terkandung dari dengungan suara “tak jelas” itu.
Dzikir saraval anam. Begitulah, masyarakat Tanjuang Medan menyebutnya. Doa yang dibacakan, merupakan doa yang dibacakan masyarakat Makkah, tak kala menyambut kelahiran Rasulullah Muhammad SAW. Para pelantun, merupakan orang-orang terpilih, dari setiap negeri yang ada di Padangpariaman. Mereka sudah “penuh” ajaran islamnya. Setidaknya, butuh waktu tiga sampai lima tahun untuk bisa membaca saraval anam. Seluruh pembaca kelihatan larut. Ada pula yang tertidur menunggu giliran, untuk membaca saraval anam, yang bukunya pernah ditulis Angku Sidi Talua. Tebalnya, sekitar 300 halaman.
Pembaca saraval anam yang paling tua, adalah Angku Kali Batipuah. Usianya sudah lebih 70 tahun. Tapi, kakek tua itu masih kuat ber-saraval. Nafasnya seakan tak putus-putus. Kepalanya menggeleng-geleng. Terkadang mendongak! Mata terbulalak! “Ya, Nabi Salam”, katanya di tengah bacaan. Giliran pun diberikan pada orang siak lainnya. Tubuh mereka terguncang, mata mendelik. Wajah menegang! Para pendengar tertegun-tegun di sudut-sudut masjid. Orang siak duduk di atas kasur, sedangkan pendengar duduk di atas karpet. Antara pembaca, dan orang siak, dipisahkan sekat, yang terbuat dari bambu.
Dinding tempat bersandar, diselimuti kain warna kuning, merah dan hitam. Lambang kebesaran adat, yang disebut Tabir. Di tengah-tengah langit-langit, digantungkan tirai cincang dan tirai kolam. Carano berisi siriah juga disebar. Lambang kebesaran adat itu, merupakan bukti, seiring-sejalannya antara adat dan agama.
Tak mudah memang, urat leher para pelantun terlihat menegang, saat membacakannya. Suaranya naik turun. Kadang terlalu tinggi, lalu menurun drastis, seperti orang menggumam. Membacanya, bukan sejam, dua jam, tapi dari pukul 23.45 WIB, hingga pukul 04.30 WIB! Tak putus-putus! Para pelantun, melakukannya secara bergantian. Modal mereka, hanyalah sepotong buah pepaya dan sebotol sirup industri rumah tangga! Usai membacakan, tak ada yang berubah, suara tetap seperti biasa. Tubuh mereka pun tak loyo.
Barang kali, kalau yang membacakannya, adalah orang biasa, yang sebelumnya tak pernah melantunkan saraval anam, pita suaranya akan putus. Setidaknya, usai membaca, suara mereka hilang, kerongkorang perih. Jangankan membaca, apa yang dilantunkan orang itu pun tak ada yang tahu. saraval anam yang dibacakan orang siak Pariaman, tak ada duanya. Hanya di situ, saraval anam dibacakan sekuat tenaga dan membuat urat leher seperti akan meloncat keluar.
“Hanya orang tertentu, khususnya rang piaman, yang bisa menerjemahkan lantunan tersebut. Orang luar, biasanya hanya geleng-geleng kepala dan menganggap bacaan saraval anam nyeleneh. Mereka tak mengerti, makanya begitu. Bacaan Sarawal Anam, merupakan lantunan suci, yang dipersembahkan untuk Nabi Muhammad. Ini sebagai wujud rasa syukur,” jelas  Ketua Yayasan Pesantren Luhur Syekh Burhanuddin Syahril Luthan Tuanku Kuniang, yang merupakan khalifah dari Syekh Burhanuddin.
Khusus untuk Jumat dini hari, saraval anam yang dibacakan, untuk mensyukuri, telah selesainya dibangun Masjid Luhur Syekh Burhanuddin. Sebelum selesai dibangun, pengurus masjid, bernazar, akan melaksanakan saraval anam, dan memotong sapi, jika pembangunan masjid yang didanai, dari bantuan RPG, senilai Rp600 juta selesai. Masjid selesai, nazar pun dilaksanakan. Seluruh orang siak di seantereo Pariaman, yang banyaknya sekitar 100 orang, dibawa serta.
“Biasanya, saraval anam dibacakan saat Maulid (hari kelahiran) Nabi Muhammad. Tapi, kali ini, saraval anam dibacakan, untuk menunaikan nazar. Sebelum direhab, pengurus berjanji akan membacakan saraval anam, untuk RPG, yang telah membantu dana pembangunan masjid luhur. Janji itu pun ditunaikan. Makanya, namanya bukan saraval anam maulid nabi, tapi saraval anam nazar,” tambah Tuanku Kuniang.
Lewat pukul 04.00 WIB. Seluruh pembaca tiba-tiba berdiri serentak. Lantunan yang awalnya tak jelas terdengar diperjelas. Seluruh orang yang ada dalam masjid pun berdiri. Tak terkecuali kaum ibu, yang sebelumnya tertidur pulas. Setengah jam berdiri, penutupan pembacaan saraval anam, ditutup dengan penyemprotan parfum kepada setiap pembaca saraval. Kaum ibu bergegas mengambil lamang dan amplop, yang akan diberikan kepada orang siak, sekedar pelepas jerih dan pembeli sugi.
Begitulah, tradisi yang dibawa Syekh Burhanuddin dari Aceh itu, tak pernah terkikis oleh perkembangan jaman. Bacaan saraval anam, merupakan salah satu cara, yang dilakukan Syekh Burhanuddin, untuk menarik masyarakat, agar mau masuk islam. Namun, yang ditakutkan, para pembaca saraval anam, rata-rata berusia 50 tahun ke atas. Jika gernerasi itu habis, lantas, siapa yang akan melanjutkan tradisi agama itu? Jika dari sekarang, tak diasuh generasi penerus, mungkin bacaan saraval anam, hanya akan tinggal cerita. Serta dikenang, sebagai salah satu seni membaca ayat suci, nan tiada duanya!
(Terbit Sebagai Tulisan Kaki, Halaman Utama POSMETRO PADANG/29/05/2010)..