 |
|
 |
|
 |
|
|
 |
Masjid Raya Sumatera Barat |
|
Mesjid Raya Minangkabau di Kota Padang
Kebanyakan orang bila diberitahu bahwa
masyarakat Minang merupakan penganut Islam yang kuat merasa bingung
karena anggapan mereka ialah sebuah masyarakat yang mengikut sistem saka
(matriarchal) akan sering berselisih dengan paham Islam yang
lebih patriarkal. Namun sebenarnya, terdapat banyak persamaan di antara
paham Islam dan Minangkabau (lebih lagi pada masa kini) sehingga menjadi
sulit untuk orang Minang membedakan satu dari yang lain.
Seperti contoh:
- Paham Islam: Menimba ilmu adalah wajib.
- Paham Minangkabau: Anak-anak lelaki mesti meninggalkan rumah mereka untuk tinggal dan belajar di surau (langgar, masjid).
- Paham Islam: Mengembara adalah diwajibkan untuk
mempelajari islam dan mencari ilmu serta menyiarkan agama islam di dunia
untuk meningkatkan iman kepada Allah.
- Paham Minangkabau: Remaja mesti merantau
(meninggalkan kampung halaman) untuk menimba ilmu dan bertemu dengan
orang dari berbagai tempat untuk mencapai kekuasaan, dan untuk mencari
penghidupan yang lebih baik. Falsafah merantau juga berarti melatih
orang Minang untuk hidup berdikari, karena ketika seorang pemuda Minang
berniat merantau meninggalkan kampungnya, dia hanya membawa bekal
seadanya.
- Paham Islam: Tiada wanita yang boleh dipaksa untuk Menikah dengan lelaki yang dia tidak mau Menikah.
- Paham Minangkabau: Wanita menentukan dengan siapa yang mereka ingin menikah.
- Paham Islam: Ibu berhak dihormati 3 kali lebih dari bapak.
- Paham Minangkabau: Bundo Kanduang (Ibu yang dituakan) adalah pemimpin/pengambil keputusan di Rumah Gadang.
- Ciri-ciri Islam begitu mendalam dalam adat Minang sehingga mereka
yang tidak mengamalkan Islam dianggap telah keluar dari masyarakat
Minang. Contohnya Samuel Koto – anggota DPR-RI yang non muslim dianggap
bukan orang minang, walaupun sebenarnya dia murtad.
Foto-foto Keindahan Mesjid Minangkabau Tempoe Doloe Tidak Kalah Dengan Pura di Bali
Salah satu keuntungan – untuk tidak mengatakan kelebihan – kolonial
Belanda ketika menduduki Nusantara (termasuk Minangkabau) adalah arsip
yang boleh dikatakan baik dan banyak, setidaknya untuk ukuran zaman itu.
Sehingga tidaklah mengherankan apabila sejarah Minangkabau menjadi
terselamatkan karena “kerja-kreatif” kolonial ini, mengabadikan event
sejarah ataupun tinggalan-tinggalan dalam bentuk-bentuk catatan-text dan
photography. Salah satu diantaranya adalah photo-photo masjid/surau
Minangkabau yang eksis/memiliki fungsi sosial-kemasyarakatan pada
masa-masa tahun 1900-an awal. Photo-photo ini diambil dari J. Bachir
yang mendedikasikan dirinya untuk “mengupload” khazanah Minangkabau
Tempoe Doeloe dalam bentuk photografy. Dari 20 photo yang diedit, hanya
11 buah photo yang diposting. Sejarah masing-masing masjid yang
seharusnya dideskripsikan, masih dalam tahap identifikasi dan penelitian
lebih lanjut.










Mesjid Minangkabau nan indah, seandainya
saja Gubernur Sumatera Barat, Walikota, Bupati beserta Kepala Dinas
Pariwisatanya dan anggota DPRD Sumbar yang sering studi banding atau
reses ke Provinsi Bali memiliki ide untuk mengembalikan bentuk dan
keindahan mesjid seperti dulu pada saat sekarang secara fisik, menyewa
atau melakukan kerjasama antar Pemerintah Propinsi Sumbar dan Bali
dengan memperkerjakan pakar taman berasal dari Bali untuk Sumatera
Barat, tentunya pariwisata di Sumatera Barat tidak akan kalah dengan
Bali dan negara Thailand. Oleh karena bentuk Pura di Bali serta Ukiran
Kayu di rumah adat bali dan ukiran kayu di rumah bagonjong tidaklah ada
bedanya. Serta keindahan alam di Sumatera Barat yang belum pernah di
poles dibanding dengan keindahan alam dibali pun tidaklah ada bedanya
jika aparat pemerintah serius untuk mengembangkan pariwisata Sumatera
Barat secara profesional.
Minangkabau Perantauan
Minangkabau perantauan merupakan istilah untuk orang Minangkabau yang hidup di luar wilayah
Sumatera Barat,
Indonesia.
Merantau merupakan proses interaksi masyarakat Minangkabau dengan dunia
luar. Kegiatan ini merupakan sebuah petualangan pengalaman dan
geografi, dengan meninggalkan kampung halaman untuk mengadu nasib di
negeri orang. Keluarga yang telah lama mempunyai tradisi merantau,
biasanya mempunyai saudara di hampir semua wilayah di Indonesia
,Malaysia dan Mancanegara. Keluarga yang paling kuat dalam mengembangkan
tradisi merantau biasanya datang dari keluarga peniaga-pengrajin dan
ahli ilmu agama.
Para perantau biasanya telah pergi merantau
sejak usia belasan tahun, baik sebagai peniaga ataupun penuntut ilmu.
Bagi sebagian besar masyarakat Minangkabau, merantau merupakan satu cara
yang ideal untuk mencapai kematangan dan kekayaan. Dengan merantau
tidak hanya harta kekayaan dan ilmu pengetahuan yang didapati, namun
juga prestise dan kehormatan individu di tengah-tengah lingkungan adat.
Dari apa yang diperoleh, para perantau
biasanya mengantar sebagian hasilnya ke kampung halaman untuk kemudian
pekerjanya dalam usaha keluarga, yakni dengan memperluaskan pemilikan
sawah, memegang untuk memandu pemprosesan lahan, atau menjemput
sawah-sawah yang tergadai. Uang dari para perantau biasanya juga
dipergunakan untuk memperbaiki sarana-sarana nagari, seperti masjid,
jalan, ataupun pematang sawah. Apalagi sudah trendnya zaman sekarang,
perantau membawa sanak familinya untuk bekerja ditempat perantau membuka
usaha contohnya rumah makan daerah lain atau di luar negeri pada saat
Lebaran.
Jumlah Perantau
Etos merantau orang Minangkabau sangatlah
tinggi, bahkan diperkirakan tertinggi di Indonesia. Dari hasil kajian
pada tahun 1961 terdapat sekitar 32% orang Minang yang tinggal di luar
Sumatera Barat. Kemudian pada tahun 1971 jumlah itu meningkat menjadi
44% . Berdasarkan tahun 2000, suku Minang yang tinggal di Sumatra Barat
berjumlah 3.7 juta orang, dengan jumlah hampir satu perdua orang Minang
berada di perantauan. Sejak masa
Perang Paderi, mobilitas penghijrahan suku Minangkabau dengan sebagian besar terjadi antara tahun 1958 hingga tahun 1978.
Gelombang Rantau
Merantau pada etnik Minang telah berlangsung
cukup lama. Sejarah mencatat penghijrahan pertama berlaku pada abad
ke-7, di mana banyak pedagang-pedagang emas yang berasal dari pedalaman
Minangkabau melakukan perdagangan di muara
Jambi, dan terlibat dalam pembentukan
Kerajaan Melayu.
Migrasi besar-besaran terjadi pada abad ke-14, di mana banyak keluarga
Minang yang berpindah ke pantai timur Sumatera. Mereka mendirikan
koloni-koloni perdagangan di
Batubara,
Pelalawan, hingga melintasi selat ke
Penang dan
Negeri Sembilan,
Malaysia.
Bersamaan dengan gelombang penghijrahan ke arah timur, juga terjadi
perpindahan masyarakat Minang ke pesisir pantai barat Sumatera. Di
sepanjang pesisir ini perantau Minang banyak tinggal di
Meulaboh,
Aceh tempat keturunan Minang dikenali dengan sebutan
Aneuk Jamee,
Barus, hingga
Bengkulu.Setelah
Kesultanan Melayu Melaka jatuh ke tangan
Portugis pada tahun 1511, banyak keluarga Minangkabau yang berpindah ke
Sulawesi Selatan. Mereka menjadi pendukung
Kesultanan Gowa,
sebagai peniaga dan administrasi kerajaan serta Penyebar agama islam di
Sulawesi. Datuk Makotta bersama isterinya Tuan Sitti, sebagai cikal
bakal keluarga Minangkabau di
Sulawesi.
Gelombang penghijrahan seterusnya terjadi pada abad ke-18, yaitu ketika
Minangkabau mendapatkan hak istimewa untuk mendiami kawasan
Kerajaan Siak.
Pada masa penjajahan Hindia-Belanda, penghijrahan besar-besaran kembali terjadi pada tahun 1920, ketika perkebunan tembakau di
Deli Serdang, Sumatera Timur mulai dibuka. Pada masa kemerdekaan, Minang perantauan banyak mendiami kota-kota besar di
Jawa. Pada tahun 1961 jumlah perantau Minang terutama di kota
Jakarta
meningkat 18.7 kali berbanding dengan tingkat pertambahan penduduk kota
itu yang hanya 3.7 kali. Kini Minang perantauan hampir tersebar di
seluruh dunia.
Perantauan Intelek
Pada akhir abad ke-18, banyak pelajar Minang yang merantau ke
Makkah
untuk mendalami agama Islam, antaranya Haji Miskin, Haji Piobang, dan
Haji Sumanik. Setibanya di tanah air, mereka menjadi penyokong kuat
gerakan Paderi dan pengedaran pemikiran Islam yang murni
(pembaharu-pencerah) di seluruh Minangkabau dan
Mandailing (Tapanuli Selatan-Sumatera Utara). Gelombang kedua perantauan ke
Timur Tengah berlaku pada awal abad ke-20, yang dimotori oleh Abdul Karim Amrullah, Tahir Jalaluddin, Muhammad Jamil Jambek, dan
Ahmad Khatib Al-Minangkabawi.
Selain ke Timur Tengah, pelajar Minangkabau juga banyak yang merantau ke
Eropa. Mereka antara lain Abdul Rivai,
Mohammad Hatta,
Sutan Syahrir,
Roestam Effendi, dan Nazir Pamuntjak. Intelektual lain,
Tan Malaka,
hidup mengembara di negara Eropa dan Asia, membina rangkaian pergerakan
kemerdekaan Asia. Semua pelajar Minang tersebut, yang merantau ke Eropa
sejak akhir abad ke-19, menjadi pejuang kemerdekaan dan pengagas
Kemerdekaan Republik Indonesia.
Sebab Merantau
Faktor Budaya
Ada banyak penjelasan terhadap fenomena ini,
salah satu penyebabnya ialah sistem kekerabatan matrilineal. Dengan
sistem ini, penguasaan harta pusaka dipegang oleh kaum wanita sedangkan
hak kaum lelaki dalam hal ini cukup kecil. Selain itu, setelah masa akil
baligh para pemuda tidak lagi dapat tidur di rumah orang tuanya, karena
rumah hanya diperuntukkan untuk kaum wanita beserta suaminya, dan
anak-anak.
Para perantau yang pulang ke kampung
halaman, biasanya akan menceritakan pengalaman merantau kepada anak-anak
kampung. Daya tarik kehidupan para perantau inilah yang sangat
berpengaruh di kalangan masyarakat Minangkabau sewaktu kecil. Siapa pun
yang tidak pernah mencoba pergi merantau, maka ia akan selalu
diejek-ejek oleh teman-temannya.Hal inilah yang menyebabkan kaum lelaki
Minang memilih untuk merantau. Kini wanita Minangkabau pun sudah lazim
merantau. Tidak hanya karena alasan ikut suami, tetapi juga kerana ingin
berdagang, meniti karier dan melanjutkan pendidikan.
Menurut Rudolf Mrazek, sosiologi Belanda,
dua tipologi budaya Minang, yakni dinamisme dan anti-parokialisme
melahirkan jiwa merdeka, kosmopolitan, egaliter, dan berpandangan luas,
hal ini menyebabkan tertanamnya budaya merantau pada masyarakat
Minangkabau.Semangat untuk mengubah nasib dengan mengejar ilmu dan
kekayaan, serta pepatah Minang yang mengatakan Ka ratau madang di hulu, babuah babungo alun, marantau bujang dahulu, di rumah paguno balun (lebih baik pergi merantau karena dikampung tidak berguna) mengakibatkan pemuda Minang untuk pergi merantau sedari muda.
Faktor Ekonomi
Penjelasan lain adalah pertumbuhan penduduk
yang tidak diiringi dengan bertambahnya sumber daya alam yang dapat
diolah. Jika dulu hasil pertanian dan perkebunan, sumber utama tempat
mereka hidup boleh menafkahi keluarga, maka kini hasil sumber daya alam
yang menjadi pendapatan utama mereka itu tak cukup lagi memberi
keputusan untuk memenuhi keperluan bersama, karena harus dibagi dengan
beberapa keluarga. Selain itu adalah tumbuhnya kesempatan baru dengan
dibukanya daerah perkebunan dan perkotaan. Faktor-faktor inilah yang
kemudian mendorong orang Minang pergi merantau mengadu nasib di negeri
orang. Untuk trik pertamanya ke tanah rantau, biasanya para perantau
menetap terlebih dahulu di rumah saudara yang dianggap sebagai induk
semang. Para perantau baru ini biasanya berprofesi sebagai pebisnis
kecil (panggaleh).
Merantau Dalam Sastra
Fenomena merantau dalam masyarakat
Minangkabau, ternyata sering menjadi sumber inspirasi bagi para pekerja
seni, terutama sastrawan.
Hamka, dalam novelnya
Merantau ke Deli, bercerita tentang pengalaman hidup perantau Minang yang pergi ke Deli dan menikah dengan perempuan Jawa. Novelnya yang lain
Tenggelamnya Kapal Van der Wijck
juga bercerita tentang kisah anak perantau Minang yang pulang kampung.
Di kampung, ia menghadapi kendala oleh masyarakat adat Minang yang
merupakan induk bakonya sendiri. Selain novel karya Hamka, novel karya
Marah Rusli,
Siti Nurbaya dan
Salah Asuhannya
Abdul Muis
juga menceritakan kisah perantau Minang. Dalam novel-novel tersebut,
dikisahkan mengenai persinggungan pemuda perantau Minang dengan adat
budaya Barat. Novel
Negeri 5 Menara karya
Ahmad Fuadi,
mengisahkan perantau Minang yang belajar di pesantren Jawa dan akhirnya
menjadi orang yang berkuasa. Dalam bentuk yang berbeda, lewat karyanya
yang berjudul
Kemarau,
AA Navis mengajak masyarakat Minang untuk membina kampung halamannya yang banyak di tinggal pergi merantau.
Novel yang bercerita tentang perantau Minang
tersebut, biasanya terkandung kritikan sosial dari penulis kepada adat
budaya Minang yang kolot dan tertinggal. Selain dalam bentuk novel,
kisah perantau Minang juga dikisahkan dalam film
Merantau karya sutradara
Inggris,
Gareth Evans.
Sumber : http://putrahermanto.wordpress.com/