Headlines
Published On:Kamis, 14 Juni 2012
Posted by AchiyaK Deni

Sebuah Rumah Gadang di Solok

‘Rumah gadang sambilan ruang, salanja kudo balari, sapakiak budak maimbau’, begitu penggalan ungkapan Minang yang sering kita dengarkan mengenai kebesaran dan kemegahan rumah gadang Minangkabau. Memang kalau kita lihat banyak foto klasik mengenai rumah gadang, ataupun beberapa di antaranya yang masih dapat kita saksikan sampai kini di darek, maka mungkin tak terlalu menyombong kalau kita katakan bahwa nenek moyang kita dulu sudah menguasai teknologi pertukangan yang cukup tinggi.


Rumah gadang jelas dibuat dengan jiwa seni yang halus dan bermutu tinggi. Setiap bagian dari rumah gadang dihiasi dengan ukiran yang memiliki nilai falsafah tertentu. Berbagai nama ukiran yang terdapat di rumah gadang – aka cino, pucuak rabuang, itiak pulang patang, dan cancadu bararak, untuk sekedar menyebut contoh – merepresentasikan falsafah hidup orang Minangkabau yang berguru kepada alam. Pembangunan rumah gadang merefleksikan sifat kegotongroyongan orang Minangkabau zaman lampau yang sangat kental, sebagaimana telah dikaji dengan mendalam oleh Marcel Vellinga dalam bukunya Constituting Unity and Difference: Vernacular Architecture in a Minangkabau Village (Leiden: KITLV Press, 2004). Sifat gotong royong orang Minangkabau itulah yang sudah memudar sekarang, berganti dengan sifat indivisualisme yang kadang-kadang melebihi orang Barat.
Rubrik ‘Minang Saisuak’ kali ini menurunkan foto sebuah rumah gadang Minangkabau dengan rankiang tinggi sitangka lapa di depannya. Foto ini dibuat oleh mat kodak Jean Demeni di Solok sekitar tahun 1915, seperti dapat dikesan dari judul foto ini: ‘Een fraai Menang Kabausch huis te Solok’ yang berarti ‘Sebuah rumah Minangkabau yang cantik di Solok’. Foto ini dicetak dengan teknik lichtdruk oleh Winkel Maatschappij Paul Bäumer & Co. di Padang.
Foto adalah sebuah artefak sejarah yang bisa ‘berbicara’ banyak kepada kita hari ini. Selain merekam rumah gadang, foto ini juga merekam beberapa lelaki dan perempuan yang kelihatan memakai pakaian serba putih. Barangkali bahannya sejenis ganiah atau marekan yang murah pada masa itu. Tapi lebih dari itu, ada cukup bukti yang menunjukkan bahwa Gerakan Paderi (1803-1837) telah mempengaruhi cara berpakaian orang Minangkabau dan juga cara mereka memilih warna pakaian. Orang yang berpakaian warna putih cenderung diasosiasikan dengan golongan agama dan yang memakai warna hitam diasosiasikan dengan golongan parewa atau golongan adat.
Dari penampilan fisik rumah gadang, dan dari cara membangunnya, tersimpan kearifan masyarakat Minangkabau, seperti tersirat dalam pantun: ‘Rumah gadang bari bapintu / Nak tarang jalan ka dalam / Sungguah sagadang bijo labu / Bumi jo langik ado di dalam’. Kini banyak orang yang sebesar ‘balon raksasa’ (baca: sangat berkuasa), tapi di dalamnya hampa, kosong melompong, jauh dari sifat arif bijaksana, dan…bebal.

(Sumber foto: Souvenir der Padangsche Bovenlanden. Padang: Winkel Mij. v/h P. Baumer & Co,19xx).
Suryadi – Leiden, Belanda.

Klik Bintang Untuk Voting Anda
Rating: 4.5
Description: Sebuah Rumah Gadang di Solok
Reviewer: AchiyaK Deni
ItemReviewed: Sebuah Rumah Gadang di Solok


About the Author

Posted by AchiyaK Deni on Kamis, Juni 14, 2012. Filed under , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

By AchiyaK Deni on Kamis, Juni 14, 2012. Filed under , . Follow any responses to the RSS 2.0. Leave a response

0 comments for "Sebuah Rumah Gadang di Solok"

Posting Komentar
Latest Posts :

Hotel

Kuliner

Wisata

Artikel Lainnya » » More on this category » Artikel Lainnya » »

Musik

Tari

Ukiran

Artikel Lainnya » » Artikel Lainnya » » Artikel Lainnya » »

Top Post

Coment

Adat

Artikel Lainnya»

Budaya

Artikel Lainnya »

Sejarah

Artikel Lainnya »

Tradisi

Artikel Lainnya »

Di Likee "Yaaa.." Kalau Postingan Di sini Sangat Bermanfaat Dan Membantu bagi Anda ..

VISITORNEW POST
PageRank Checker pingoat_13.gif pagerank searchengine optimization Search Engine Genie Promotion Widget ip free counter