Headlines
Published On:Selasa, 01 Mei 2012
Posted by AchiyaK Deni

Dari Surau Ini Kami Tumbuh, Ibarat Benih, Inilah Pesemaian Yang Mengantar Kesawah Untuk Menjadi Padi

Setiap hari ketika senja datang, setelah tepian tempat mandi di lubuak tingkarak lengang, yang muda-muda pergi kesurau. Aib besar ketika akil balig tidur di rumah Mandeh Kanduang (ibu). Sejak umur tujuh tahun, bahkan lebih muda para lelaki ini harus pindah kesurau, berteman tikar pandan lusuh tanpa bantal, karena bantal hanyalah milik pak malin garin (muazin & imam sholad) surau. Sesampai disurau, selepas sholad magrib, yang masih anak-anak mengaji juz amma. Menjelang sholad isha, anak laki-laki yang satu persatu pulang dari lapau untuk menunaikan sholat Isha sekaligus memperlancar kaji alqur’an besar. Setelah sholad isha itu, surau akan berdengung dengan lagu dan irama membaca alqur’an, ada yang irama padang pasir, ada yang irama surau Gurun dan sebagainya.

Serentak ketika pak malin selesai mengumandangkan komad, semua laki-laki dan perempuan tegak berdiri betul, mengangkat tangan, bersidekap dan mulailah sholad isha. Tapi jangan dikira suasana itu sepenuhnya hening. Ketika ruku’ ada saja yang iseng mendorong dari samping, hingga syaf sholat berantakan berjatuhan ke samping. Bunyi gedubrak itu diselingi oleh tawa tertahan dan seketika melayanglah rotan ke pantat masing-masing yang dipukulkan Malin Duano, adik pak Malin yang menjadi guru mengaji di surau itu. Beliau sengaja sholat setelah sholad berjamaah, untuk menjaga kejadian tadi dan kenakalan lainnya ketika sholad. Tidak ada yang bisa marah meskipun rotan itu membuat merah pantat, karena ketika penyerahan mengaji itu, ayah dan bundo sekaligus menyerahkan rotan sepanjang satu meter untuk pemukul jika anaknya nakal ketika belajar mengaji. Paling kalau kejengkelan telah memuncak, maka korbannya adalah tumpukan rotan itu, rotan itu akan berenang di batang Sinamar. Tapi meskipun kami buang rotan itu, Malin Duano lebih kreatif dan menggantinya dengan ranting bambu dan kalau dipukul pakai itu, rasanya lebih pedih. Selesai sholad isha itu, perempuan dan laki-laki kecil pulang kerumah.

Ketika jarum jam mulai mendaki pada angka tengah malam, Marah Banso, parewa yang juga mengaji di surau membuka sasaran. Satu persatu para pemuda mengitari halaman dengan jurus-jurus dan bunga-bunga silat. Mulai diatas tanah, sampai keatas mumbang (kelapa hampa), mulai dari atas tempurung, sampai ke atas pecahan kaca. Saling tinju dan pukul, salik elak dan sepak. Mulai dari silat tuo, kumango, silat duduk sampai ke silat buaya lalok (buaya tidur). Setelah nafas hampir putus, latihan silat selesai. Setelah membersihkan badan dan membaringkan badan, segeralah terdengar dengkur saling bersahutan. Oh tunggu dulu, para pemuda terpilih ternyata masih ada yang bangun, mereka mengaji ma’rifat dan hakikat pada buya (kiyai). Belajar tentang siapa diri, mengkaji sabalun alun barabalun (sebelum yang belum ada, apa yang ada), hidup akan mati, hingga azab kubur, selain itu tentu saja yang paling disuka para pemuda, “silat batin”, silat yang bisa menjatuhkan orang tanpa disentuh.

Sekali seminggu surau itu seperti pesta besar, para lelaki itu mencari ikan dan belut tengah malam. Berteman suluh daun kelapa dan parang panjang, hilir mudik keluar masuk taratak dan koto di nagari. Ketika tak ada hasil yang didapat, ada juga yang nakal mencuri ayam tek (tante) Munah yang kaya. Supaya jangan dimarahi keesokannya, maka yang disuruh mengambil adalah cucu tek Munah. Setelah itu mulailah ritual membuat rendang dan memasak nasi oleh para lelaki itu, yah lelaki semua. Mungkin karena itulah ketika masa perantau klasik, orang Minangkabau jika datang ke satu daerah selalu mendirikan warung makan Padang setelah terlebih dahulu singgah beberapa bulan di mengajar mengaji di Mesjid kota setempat. Begitulah ritualnya para lelaki Minang




Sumber   :      http://my.opera.com/andikosutanmancayo/blog/show.dml/

Klik Bintang Untuk Voting Anda
Rating: 4.5
Description: Dari Surau Ini Kami Tumbuh, Ibarat Benih, Inilah Pesemaian Yang Mengantar Kesawah Untuk Menjadi Padi
Reviewer: AchiyaK Deni
ItemReviewed: Dari Surau Ini Kami Tumbuh, Ibarat Benih, Inilah Pesemaian Yang Mengantar Kesawah Untuk Menjadi Padi


About the Author

Posted by AchiyaK Deni on Selasa, Mei 01, 2012. Filed under , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

By AchiyaK Deni on Selasa, Mei 01, 2012. Filed under , , , . Follow any responses to the RSS 2.0. Leave a response

0 comments for "Dari Surau Ini Kami Tumbuh, Ibarat Benih, Inilah Pesemaian Yang Mengantar Kesawah Untuk Menjadi Padi"

Poskan Komentar
Latest Posts :

Hotel

Kuliner

Wisata

Artikel Lainnya » » More on this category » Artikel Lainnya » »

Musik

Tari

Ukiran

Artikel Lainnya » » Artikel Lainnya » » Artikel Lainnya » »

Top Post

Coment

Adat

Artikel Lainnya»

Budaya

Artikel Lainnya »

Sejarah

Artikel Lainnya »

Tradisi

Artikel Lainnya »

Di Likee "Yaaa.." Kalau Postingan Di sini Sangat Bermanfaat Dan Membantu bagi Anda ..

VISITORNEW POST
PageRank Checker pingoat_13.gif pagerank searchengine optimization Search Engine Genie Promotion Widget ip free counter