Headlines
Published On:Sabtu, 21 Januari 2012
Posted by AchiyaK Deni

Seabad Kelok 9 (1910 dan 2010)



Atas : Tahun 1910 (Sumber : Koleksi KITLV, Leiden)
Bawah : Tahun 2010 (Sumber : subkiskeigoblogspot.com)
Kedua foto ini mengambil lokasi dan angle yang sama, tapi dipisahkan jarak waktu seratus tahun. Lokasi yang dipilih adalah Kelok Sembilan, sebuah lokasi berjarak kira-kira 70 km dari Bukittinggi arah ke Pekanbaru.
Sesuai namanya, Kelok Sembilan mempunyai 9 buah kelok (bahasa Minang yang berarti tikungan) dengan sudut putar 180 derjat. Sebuah cara yang dibuat oleh Belanda dalam menyiasati beda tinggi yang mencolok antara jalan bagian bawah dan bagian atas. Cara ini efektif untuk memperpendek jarak tempuh karena tidak perlu memutar mengelilingi bukit. Selain disini, kelok yang banyak juga terdapat di Kelok 44 (Maninjau) dan Sitinjau Laut (Padang-Solok). Lain waktu kita jalan-jalan ke sana.
Kelok 9 dibangun Belanda pada tahun 1908 - 1910. Pada foto pertama, sepertinya dipotret pada saat jalan itu baru selesai dibangun tahun 1910. Ini terlihat dari lingkungan yang bersih dari tanaman-tanaman besar. Bahkan ada yang masih bertumbangan. Dalam foto juga terlihat sebuah mobil menuruni kelok sembilan dan di kejauhan sana terlihat jalan mengular menuju kepekatan rimba raya, ke arah kota Pajakoemboeh alias Payakumbuh. Terbayang waktu itu, apa yang ada dalam pikiran para penumpang mobil ketika berjalan dalam naungan batang kayu raksasa di kiri-kanan jalan. Alangkah beraninya!
Foto kedua, seratus tahun kemudian. 2010. Perbedaan yang mencolok adalah jalan sudah dilapisi aspal mulus lus lus. Kemudian kepekatan hutan terlihat berkurang dan tidak seseram foto seratus tahun sebelumnya. Yang pasti masih sama adalah konstruksi dinding penahan tanahnya. Dari kedua foto dapat dipastikan dinding itu adalah dinding yang sama. Dilihat dari bentuk dan alur-alur yang ada di permukaan dinding. Seratus tahun menantang panas dan hujan tidak membuat dinding itu lapuk dimakan usia. Jangankan rubuh, sompel pun tidak! Hanya ada penambahan dinding di sebelah kiri arah jurang. Mungkin untuk pencegahan karena sudah banyak pembalap jalanan yang terjun ke dalam sana.
Terakhir, ternyata kedua foto ini memperlihatkan bahwa lebar jalan di sana tidak berubah selama 100 tahun. Padahal kendaraan yang lewat sudah berbeda jauh ukurannya. Pantas saja sering macet....:)
sumber : http://minanglamo.blogspot.com/

Klik Bintang Untuk Voting Anda
Rating: 4.5
Description: Seabad Kelok 9 (1910 dan 2010)
Reviewer: AchiyaK Deni
ItemReviewed: Seabad Kelok 9 (1910 dan 2010)


About the Author

Posted by AchiyaK Deni on Sabtu, Januari 21, 2012. Filed under , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

By AchiyaK Deni on Sabtu, Januari 21, 2012. Filed under , , . Follow any responses to the RSS 2.0. Leave a response

0 comments for "Seabad Kelok 9 (1910 dan 2010)"

Posting Komentar
Latest Posts :

Hotel

Kuliner

Wisata

Artikel Lainnya » » More on this category » Artikel Lainnya » »

Musik

Tari

Ukiran

Artikel Lainnya » » Artikel Lainnya » » Artikel Lainnya » »

Top Post

Coment

Adat

Artikel Lainnya»

Budaya

Artikel Lainnya »

Sejarah

Artikel Lainnya »

Tradisi

Artikel Lainnya »

Di Likee "Yaaa.." Kalau Postingan Di sini Sangat Bermanfaat Dan Membantu bagi Anda ..

VISITORNEW POST
PageRank Checker pingoat_13.gif pagerank searchengine optimization Search Engine Genie Promotion Widget ip free counter